Mengenang Achyar Sikumbang, Sosok di Balik Karikatur Tanbaro

Achyar Sikumbang saat pameran tunggal, Senin (07/11/2016). (Foto: J. Sastra)

Padangkita.com – Tanggal 7–11 November 2016 menjadi salah satu momen berkesan dalam hidup Achyar Sikumbang. Ratusan karyanya dipamerkan dalam suatu pameran tunggal di Galeri Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Padang. Karyanya beragam, mulai dari lukisan, sketsa, ilustrasi, hingga kliping artikel seni rupa dari berbagai media massa tahun 1970—2015.

Pameran itu dipersembahkan Jurusan Seni Rupa UNP. Syafwan, Ketua Jurusan Seni Rupa yang menjabat saat itu, mengatakan pameran ini merupakan penghormatan atas dedikasi Achyar sebagai pengajar di jurusan tersebut. Baik itu dalam ruang lingkup akademik maupun dalam ruang lingkup seni rupa Sumatra Barat.

Nama Achyar sudah tidak asing didengar. Di Sumbar, pria kelahiran Ladang Laweh, Banuhampu, 10 Oktober 1946 itu terkenal sebagai ilustrator dan karikaturis. Karyanya banyak menghiasi edisi Minggu Harian Singgalang, sebuah koran lokal di Kota Padang. Salah satu karakter kartunnya yang ikonik adalah Tanbaro, yang terbit sejak 1973.

Tanbaro merupakan tokoh kartun yang sering menyampaikan kritik terhadap kondisi sosial masyarakat. Ia digambarkan sebagai seorang laki-laki asal Bukittinggi. Ia bersebo, berkumis penyaring kopi, berbaju teluk belango, berkain sarung, dan memakai sendal tangkelek.

“Pencipta konsepnya adalah almarhum Nasrul Sidik. Nama Tanbaro itu diambil dari gelar Limbago saya, Sutan Bandaro,” ujar Achyar di sela-sela pamerannya, Senin (07/11/2016) silam.

Suka Menggambar Sejak Kecil 

Pada kesempatan itu, Achyar juga berkisah tentang mula dirinya terjun ke dunia seni rupa. Ketertarikan Achyar terhadap seni rupa, khususnya seni gambar, sudah berlangsung sejak sebelum sekolah dasar. Waktu itu, ia sering menggambar di atas tanah halaman rumah dengan pisau.

“Sering saya dimarahi ibu karena menghilangkan pisau,” kenangnya.

Memasuki masa SMP, ketertarikan itu terus berlanjut. Sepulang sekolah, sering ia bermain di sebuah bangunan tua bekas sekolah pendeta di Nagari Taluak.

Gedung tua itu tak beratap. Di dalamnya, terdapat berbagai lukisan karya pelukis otodidak bernama Mahyuddin. Achyar suka menghabiskan waktu untuk memandangi lukisan yang ada di sana. Sejak masa itulah, mantan guru PPSP IKIP Padang (sekarang Sekolah Pembangunan UNP) ini mantap memilih seni rupa sebagi jalan hidupnya.

Setamatnya SMA, Achyar melanjutkan pendidikan di Jurusan Seni Rupa IKIP Padang. Di masa kuliah inilah, keterampilan Achyar dalam menggambar semakin terasah.

Ia kerap dimintai oleh sahabat-sahabatnya yang gemar menulis cerpen, seperti Harris Effendi Thahar, Makmur Hendrik, Mustafa Ibrahim, Yusmar Umar, dan Bakhtaruddin Nst. untuk membuat ilustrasi cerpen untuk diterbitkan di media massa.

Sejak 1971, tak sedikit karya ilustrasinya, baik untuk cerpen maupun novel bersambung, menghiasi rubrik budaya di Harian Singgalang. Bahkan pada 1974, berkat kreativitas dan dedikasinya dalam berkarya, ia diminta untuk menggantikan Salius Sutan Sati, ilustrator dan karikaturis di surat kabar tersebut.

Gemar Mengkliping Koran

Semasa hidupnya, Achyar juga dikenal sebagai sosok yang gemar mengkliping koran. Sejak 1970, ia tekun mengkliping artikel-artikel seni rupa yang terbit di berbagai media nasional, seperti Kompas, Tempo, Media Indonesia, dan Republika. Puluhan jilid kliping artikel koran itu turut dipamerkan Achyar dalam pameran tunggalnya.

Ketua Pelaksana Pameran Riri Trinanda menjelaskan bahwa keberadaan arsip tersebut sangat berguna untuk perkembangan seni rupa di Sumatra Barat. Menurutnya, arsip itu diperlukan dalam melakukan kajian terhadap seni rupa. Bahkan, artikel-artikel yang telah dikliping dan dijilid Achyar sudah beberapa kali dijadikan sebagai bahan penelitian, baik di bidang seni rupa, sastra, maupun musik.

“Arsip tersebut didonasikan oleh Achyar ke jurusan. Siapa saja yang membutuhkan bisa menghubungi pihak Jurusan Seni Rupa,” ujar Riri saat pameran.

Berkarya Hingga Akhir Hayat

Tidak hanya aktif sebagai karikaturis dan dosen, Achyar juga turut berkontribusi memajukan dunia kesenian dan kebudayaan Sumbar. Semasa hidupnya, ia sudah malang melintang di kepengurusan Dewan Kesenian Sumatra Barat.

Achyar juga dikenal aktif di forum-forum diskusi, seminar, dan iven-iven seni rupa lainnya. Pria yang suka mengenakan topi pet itu juga pernah ambil bagian dalam berbagai iven kesenian tingkat nasional dan internasional. Pada 2003, Achyar turut menjadi bagian dari Pameran Seni Lukis Konvesia Melayu/Islam Sedunia.

Meski tak lagi muda, Achyar tak henti berkarya. Menjelang akhir hayatnya, di usia 72 tahun dan sering sakit-sakitan, karya ilustrasi dan karikatur Tanbaronya masih mengisi rubrik Harian Singgalang edisi Minggu. Selain itu, ia juga masih mengajar mata kuliah ilustrasi dan menggambar anatomi di Jurusan Seni Rupa UNP dosen luar biasa.

“Saya pernah bertanya kepada KJ (Khairul Jasmi, Pemimpin Redaksi Harian Singgalang), ‘Sampai kapan saya akan menjadi ilustrator di sini?’ Jawab KJ: ‘Sampai Abang tidak lagi sanggup menggambar.’ Sampai saya mati,” ujarnya sambil terkekeh.

Achyar meninggal dunia di kediamannya Wisma Indah III, Tabing, Kota Padang sekitar pukul 16.00 WIB, Ahad (18/02/2018). Sebelumnya, ia sempat dirawat di Rumah Sakit Yos Sudarso Padang karena komplikasi lambung. Almarhum dimakamkan di Pemakaman Ikatan Keluarga Banuhampu, Kabupaten Agam di Mata Air.

Selamat jalan, Tanbaro!