Mengenal Ubud Writers and Readers Festival

UWRF 2017

Padangkita.com – Mungkin sudah banyak orang, apalagi yang menyukai dunia sastra dan seni telah mengenal Ubud Writers & Readers Festival (UWRF). UWRF ini merupakan festival wastra dan weni terbesar untuk kawasan Asia Tenggara.

Acara ini pertama kali digelar pada 2004 silam. Ada tiga kegiatan yang menggunakan nama Ubud yakni Ubud Writers & Readers Festival, Ubud Food Festival, dan Bali Emerging Writers Festival. Dan ketiga-tiganya merupakan festival favorit di Pulau Bali.

Ratusan atau bahkan ribuan orang se Indonesia berharap bisa menjadi bagian penting dari kegiatan ini salah satunya contohnya Ubud Writers & Readers Festival (UWRF), namun sayangnya tidak semua memiliki kesempatan karena ketatnya seleksi yang dilakukan penyelenggara.

Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) merupakan acara utama dari Yayasan Mudra Swari Saraswati. Acara yang diselenggarakan tiap tahun ini bertujuan untuk memamerkan keragaman budaya Indonesia kepada dunia sekaligus mempromosikan Ubud sebagai sebuah pusat pertemuan bagi para penulis dan seniman dari seluruh dunia untuk berkarya.

Untuk penulis Sumatera Barat, nama Gus TF Sakai merupakan penulis Ranah Minang pertama yang diundang untuk mengikuti kegiatan tersebut dan terkakhir pada tahun 2016 lalu Sumbar diwakili oleh Soetan Radjo Pamoentjak. Tercatat ada 16 nama penulis dari Sumbar yang mengikuti kegiatan tersebut.

Esha Tegar Putra, salah seorang yang pernah mewakili Sumbar dalam UMRF 2009 mengatakan dirinya sangat senang bisa terpilih mengikuti kegiatan tersebut.

“Sangat senang bisa mewakili Sumatera Barat dan senang bisa bertemu dengan penulis Indonesia lainnya,” katanya kepada Padangkita.com, Kamis (13/072017).

UWRF telah menempati posisi sebagai festival sastra yang paling diminati di Asia Tenggara. UWRF lebih mengarah ke festival sosial, budaya, politik, dan seni, ketimbang “sekedar” festival sastra.

Pada tahun 2015 saja UWRF menarik puluhan ribu pengunjung selama lima hari acara yang diadakan di lebih dari 50 lokasi yang tersebar di Ubud, dengan 150 lebih penulis, pembicara, dan tokoh budaya dari seluruh Indonesia dan dunia.

Sesuai dengan asal muasal festival ini sendiri, UWRF berfungsi sebagai wadah bagi penulis, baik profesional maupun emerging, dan dengan bangga mempersembahkan deretan program-program gratis untuk dinikmati siapa saja.

Ketiga festival yang memiliki fokus dalam mempromosikan budaya Indonesia ini bernaung dalam satu lembaga nirlaba asli Ubud yakni Yayasan Mudra Swari Saraswati.

Namun mungkin banyak yang tidak tahu jika lembaga ini lahir akibat duka yang menghantam bangsa Indonesia di tahun 2002 yakni bom Bali.

UWRF biasanya diselenggarakan selama lima hari berturut-turut. Sesuai temanya, sejumlah acara dan gerakan yang sangat powerful dan menghadirkan pembicara dari beragam negara akan membantu peserta untuk membuat segalanya lebih baik di dunia ini. Mulai dari urusan politik hingga teknlogi, lingkungan hidup dan spiritual.

Dan seperti biasanya, UWRF juga akan merayakan pentingnya sastra dan seni untuk mendefinisikan posisi kita di dunia.

Pada penyelenggaraan UWRF 2017 kali ini, penulis, seniman dan penampil kelas dunia akan berbagi ide dan kreativitas mereka sesuai tema tahun ini, Origins. Untuk informasi, pada UWRF 2016 sendiri diramaikan oleh 160 lebih pembicara dari 23 negara di dunia.

Tahun ini, UWRF juga akan berfokus di seni dan sastra asli Indonesia dan akan terus berupaya untuk memperkenalkan para penulis dan seniman berbakat Tanah Air pada dunia.

BAGIKAN