Mencuri Perhatian Orang Mentawai Dengan Festival

Foto: minangtourism.com

Padangkita.com – Festival Pesona Mentawai sudah ditutup 5 Oktober lalu, dengan sumringah dan rasa bahagia mereka yang berkesempatan hadir. Festival selama lima hari menjadi magnet sekaligus memaparkan miniatur Mentawai ke dunia luar.

Mentawai, adalah kawasan dengan empat pulau besarnya yang menyimpan aneka budaya yang mempesona. Sayang, tidak gampang untuk dijamah. Kondisi geografis, cuaca, akses, dan perhubungan, sederet persoalan yang menjadikan Mentawai bak surga yang butuh banyak cara untuk merasakannya.

Di balik itu, festival sesungguhnya cara otoritas terkait mencuri perhatian orang Mentawai. Tahun ini saja, ada tiga festival resmi yang ditabuh. Sebelum Festival Pesona Mentawai, ada Festival Panah Mentawai, dan Festival Muanggau.

Festival Pesona Mentawai yang menutup agenda tahun ini, didukung sepenuhnya oleh Kementerian Pariwisata.

Mengambil tempat di Pantai Mapadeggat, berbagai atraksi budaya, kegiatan wisata, dan pertunjukan seni tradisional dibawakan oleh perwakilan dari ke-10 kecamatan yang membentuk Kabupaten Kepulauan Mentawai. Selain itu, ada penampilan dari sejumlah pemangku kepentingan pariwisata setempat.

Diantaranya adalah Tari Perang Suku Suku Mentawai, Upacara Adat Tradisional, Demonstrasi Tato Tradisional Mentawai, Pembuatan Perahu Tradisional, Panahan Tradisional, Pertunjukan Tari Besar-besaran, dan banyak lagi.

Saat membuka Festival Pesona Mentawai (FPM) II 2017, Bupati Kepulauan Mentawai,Yudas Sabaggalet di kawasan pantai Mapadegat-Sipora Utara, Minggu, (01/10/2017), menyebutkan dengan adanya kegiatan festival budaya diharapkan akan ada klarifikasi terhadap pandangan yang tidak tepat tersebut terhadap tradisi Mentawai.

Yudas menyebutkan, sampai saat ini masih ada beberapa orang diluar Mentawai yang salah dalam memahami budaya Mentawai, seperti budaya atau tradisi mencari kepiting pada bulan purnama atau Muanggau dalam bahasa Mentawai, dikatakan sebagai ajang mencari jodoh atau menjurus kepada kegiatan seks bebas.

Padahal kata Yudas, tradisi Muanggau adalah kegiatan tradisi orang Mentawai yang mencerminkan kebersamaan dan gotong royong, karena mereka pada saat malam bulan purnama secara bersama sama mencari anggau atau kepiting khas Mentawai.

Dia menghimbau warganya untuk tidak malu mempelajari dan memahami budaya Mentawai.

Kata dia, budaya Mentawai merupakan identitas dan salah satu bagian budaya bangsa yang harus dipelajari, dipahami dan dikembangkan.

Baca juga:
Sosialisasi Program, BKKBN Sumbar Gelar Festival Kesenian Daerah

“Budaya Mentawai memiliki berbagai keunikan, budaya Mentawai adalah identitas orang Mentawai dan juga merupakan bagian identitas dari Republik ini, maka saya himbau kepada masyarakat Mentawai dan juga orang lain yang sudah menetap di Mentawai, untuk tidak malu mempelajari,memahami dan ikut mengembangkan budaya Mentawai,“ tandasnya seperti dikutip dari mentawaikab.go.id.

Senada dengan itu, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Kepulauan Mentawai Desti Seminora Sababalat mengatakan semua festival yang diselenggarakan ada nilai edukasi, kepedulian lingkungan.

Menurutnya, festival adalah solusi mencuri perhatian orang Mentawai. “Orang Mentawai, kita harus mencuri perhatiannya, dengan kegiatan yang mereka senangi. Dan mereka terlibat. Mereka ikut terlibat menjadi peserta, pelaku. Keterlibatan mereka yang membuat mereka merasa bahwa sebenarnya iven yang kita adakan, dalah iven mereka,” jelasnya suatu hari di penginapan Oinan, Tuapejat.

Dengan cari itu, sambungnya, lebih gampang pemerintah masuk dalam konteks pengembangan wisata. Sebab, festival menandaskan bahwa pariwisata ini bermanfaat bagi mereka.

Mentawai terdiri dari empat pulau besar yakni Siberut, Sipora, Pagai Utara, dan Pagai Selatan. Sementara festival-festival itu dijatuhkan pilihan pada Pulau Sipora persisnya di Mappadegat dan Tuapejat. Hal ini menurut Desti, Tuapejat memiliki kelebihan dari sisi aksebilitas, sarana prasarana lebih gampang.

“Kalau jauh seperti daerah pedalaman, susah sekali akses dan transportasi. Komunikasi pun sulit. Jadi mengadakan iven terlalu sulit,” tukasnya.

Festival yang gencar diadakan beberapa tahun terakhir, menurut Desti cukup memberi dampak. Evaluasi yang dilakukan pihaknya, festival mendongkrak pada bertumbuhnya usaha wisata di Mentawai.

“Usaha rumah makan, akomodasi bertambah jumlahnya. Jumlah kunjungan ke festival meningkat. Pelayanan telekomunikasi, dulu tidak ada jaringan 3G di Katiet misalnya, kini sudah bisa live streaming. Jalan semakin digenjot pembangunannya oleh PU,” terangnya.

Paling mendasar tentu saja kunjungan wisatawan. Menurutnya, angka kunjungan peselancar tahun 2016 sekitar 7200 orang asing. Sementara wisatawan lokal sekitar 5000-6000.

“Tercatat yang berkunjung ke festival, ribuan jumlahnya,” ujarnya.

Bagaimana pun festival hendaknya bukan sekedar proyek wisata semata, lebih dari itu, merawat budaya dan pesona Mentawai yang tidak dipunyai wilayah lain.

Baca juga:
Wow!!! Dahsyatnya Panah Beracun Suku Mentawai, Begini Efeknya

Setidaknya, 80 persen kunjungan wisatawan asing ke Sumbar adalah ke Mentawai, tetap terjaga, bahkan terus meningkat.