Malamang Sakampuang, Tradisi Turun Temurun Ranah Minang

Malamang Sakampuang di Aie pacah (Foto: Humas Kota Padang)

Padangkita.com – Salah satu tradisi lokal yang dimiliki oleh masyarakat minang dalam rangka menyambut sebuah perayaan adalah dengan malamang. Malamang memasak lamang atau lemang. Lamang sendiri adalah makanan khas yang terbuat dari bahan
baku ketan.

Tradisi malamang diperkirakan berlangsung sejak ratusan tahun lalu. Kegiatan ini berlangsung terus menerus hingga saat ini. Menurut Tambo, syekh Burhanuddin memiliki peran yang besar atas terbentuknya tradisi ini.

Biasanya, kegiatan malamang dilakukan saat memasuki atau memperingati hari-hari besar islam. Biasanya malamang dilakukan sehari sebelum kegiatan atau peringatan tersebut dilakukan.

Untuk malamang, tidak bisa dilakukan seorang diri. Malamang membutuhkan beberapa orang untuk membuatnya. Misalnya saja, untuk malamang diperlukan orang untuk mencari bambu sebagai tempat adonan, mencari kayu bakar guna memanggang lamang,
mempersiapkan bahan-bahan untuk membuat lamang seperti beras ketan, santan, dan juga daun pisang, serta orang yang mempersiapkan adonan dan memasukkan adonan lamang kedalam bambu.

Untuk satu orang saja, tentu malamang merupakan pekerjaan yang sangat berat bahkan tidak mungkin. Oleh karena itu dalam malamang, dibutuhkan beberapa orang yang mampu saling bekerja sama dari awal hingga akhir pembuatan lamang. Dengan adanya saling kerjasama diantara sekelompok orang dalam malamang, maka malamang akan terasa mudah dan menyenangkan.

Disinilah letak kelebihan dalam tradisi malamang. Malamang dapat memupuk rasa kerjasama dan kebersamaan sesama anggota masyarakat di Minangkabau.

Di Aia Pacah, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, tradisi malamang biasa dilakukan masyarakat secara massal atau disebut malamang sakampuang. Malamang sakampuang dilakukan oleh saat menghadapi kegiatan besar seperti halnya di daerah lain di Minangkabau yakni merayakan maulid di masjid.

Lamang yang sudah matang nantinya akan menjadi suguhan bagi jamaah yang hadir termasuk para pejabat pemerintah yang diundang.

Tradisi ini memang telah jarang dilakukan, apalagi di ibukota Provinsi Sumatera Barat yang semakin metropolis. Hanya perhatian pemerintah dan tokoh masyarakat yang mampu menghidupkan tradisi ini agar tetap bertahan.

Khalil Caniago, tokoh pemuda setempat menyatakan perlu menghadirkan kembali tradisi malamang yang saat ini sudah jarang dilakukan masyarakat.

“Selaku generasi muda, kami ingin mewarisi tradisi yang baik ini, sebab dalam tradisi malamang terdapat semangat persatuan, kebersamaan dan kekompakan,” kata Khalil dikutip dari humas pemko, Minggu (31/12/2017).

Hingga kini, meski zaman telah berubah dan ilmu pengetahuan terus berkembang, lamang tetaplah makanan yang terbuat dari adonan beras ketan dan santan yang dimasukkan dalam tabung bambu dimana lubang dalam bambu tersebut sebelumnya telah dialasi oleh daun pisang dan kemudian dipanggang diatas api dengan kayu sebagai bahan bakar.

BAGIKAN