Lunang, Jejak Terakhir Bundo Kanduang

Ilustrasi

Padangkita.com – Lunang dalam catatan Erizon merupakan salah satu daerah yang penuh dengan sejarah perkembangan Minangkabau. Menurutnya, Lunang menjadi tempat pelarian terakhir Bundo Kanduang dan keluarganya dari serangan Raja Tiang Bungkuak yang ingin menghancurkan keluarga Bundo Kanduang.

Bundo Kanduang bersama anaknya Daang Tuanku dan mantunya Puti Bungsu pun akhirnya mengasingkan diri ke Lunang.

Daerah Lunang saat ini adalah sebuah nagari adminstrasi. Lunang juga dijadikan nama kecamatan sejak tahun 2013 dan sekaligus dalam satu kerapatan adat yakni Kerapatan Adat Nagari Lunang.

Menurut catatan Erizon yang juga merupakan sekretaris daerah kabupaten Pessel, Lunang merupakan sebuah negeri di pedalaman pantai barat di ujung Kabupaten Pesisir Selatan. Di kelilingi pertahanan rawa, dan pohon mangrove serta sungai berliku yang dihuni banyak buaya.

Dalam catatannya yang dikutip dari pesisirselatankab.go.id, Sabtu (03/02/2018) banyak versi tentang Bundo Kanduang dan Mande Rubiah. Ada yang meyakini Bundo Kanduang sama dengan Mande Rubiah. Lain versi tentu lain pula kaba jo ilaunya. Ada kuburan Bundo Kanduang dan Tiang Bungkuak di sekitar Rumah Gadang Mande Rubiah.

“Di Lunang dijumpai sejarah yang menarik, baik mengenai keberadaannya, maupun hubungannya dengan Pagaruyung, kerajaan yang jauh di pedalaman Minangkabau,” tulisnya.

Menurutnya, Pagaruyung sendiri, tak terpisahkan dari Kerajaan Majapahit. Adalah Dara Petak dan Dara Jingga, yakni dua gadis Kerajaan Darmasraya yang diantar ke Majapahit, yang salah satunya menjadi permaisuri Majapahit, yakni Dara Petak yang melahirkan raja besar Majapahit; Raja Jayanegara. Sedangkan Dara Jingga melahirkan Adityawarman, sebagai Raja Pagaruyung.

Karena Pagaruyung dan Lunang tak terpisahkan dari Bundo Kanduang, maka Raja Pagaruyung merasa harus ke Lunang bersama para menterinya.

Ketika Raja Pagaruyung melaporkan hasil kunjungannya kepada ibunya, Dara Jingga, Adyatiawarman menyebutkan, bahwa Lunang pemandangannya bagus. Berdekatan dengan lautan. Letaknya sangat baik jika dijadikan pelabuhan dan pusat perdagangan di belahan barat Swarnadwipa. Alamnya sudah terbentuk bagaikan suatu kubu pertahanan. Jika ada serangan dari pihak musuh, mereka sulit menerobosnya. Kata Raja Pagaruyung kepada bundanya, Dara Jingga.

Baca juga:
Tukang, Profesi Orang Minang Kebanyakan

Hilangnya Bundo Kanduang, dan “ngirap” ke Lunang. Atau perjalanan bersejarah Aditiayawarman ke Lunang, menyisir Bukit Tambun Tulang yang terkenal itu.

Mengalahkan anak buah Harimau Tambun Tulang dalam versi Novel “Adityawarman: Matahari di khatulistiwa”. Mengarungi laut menuju Lunang dengan rombongan kapal, membuktikan begitu pentingnya Lunang bagi Pagaruyung.