Laskar Turtle Camp Pessel Akan Lepasliarkan 1.000 Tukik

Ilustrasi tukik (foto: likeind)

Padangkita.com – 1.000 tukik akan dilepasliarkan oleh Laskar Turtle Camp (LTC) Nagari Amping Parak Kecamatan Sutera Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel). Langkah ini dilakukan untuk menjaga agar penyu bisa terus berkembang dan terhindar dari ancaman kepunahan.

Ketua LTC Amping Parak, Haridman mengatakan pelepasliaran tukik tersebut karena anak penyu yang di tangkar secara swadaya tersebut telah siap dilepas ke laut. 1.000 tukik tersebut saat ini berada di penangkaran. Rencananya pelepasan 1.000 tukik ini akan dilakukan pada Rabu, 6 Desember mendatang.

“Pelepasliaran tukik akan kita lakukan pada 6 Desember mendatang, sebab hari itu juga bertepatan dengan serah terima kegiatan program bina lingkungan PLN Wilayah Sumbar di kawasan konservasi ini,” katanya dikutip dari humas, Rabu (29/11/2017).

Hariman menambahkan bahwa program konservasi tukik tersebut juga didukung oleh PLN melalui program bina lingkungan dengan bantuan anggaran Rp236 juta. Kawasan konservasi tukik tersebut memiliki luas mencapai 25 hektare.

Dijelaskan pula bahwa kawasan konservasi yang dikelolah secara swadaya oleh kelompok masyarakat di Nagari Amping Parak Kecamatan Sutera itu, telah memiliki berbagai sarana dan prasarana penujang. Ada pun sarana yang telah dimiliki adalah rumah penetasan penyu, dermaga mini, musholah, MCK dan kendaraan pengangkut sampah, listrik tenaga surya, serta juga taman bermain dengan ikon patung penyu.

Disampaikanya bahwa dalam melakukan perawatan terhadap tukik yang sudah menetas, LTC Amping Parak memiliki empat bak penampungan.

“Pada empat bak penampungan ini, ada tiga jenis penyu yang sudah berkembang dan siap untuk dilepas ke laut. Jumlahnya mencapai 1000 ekor. Tiga jenis penyu itu diantaranya, penyu hijau, sisik, dan lekang,” jelasnya.

Lebih jauh dijelaskanya bahwa pengembangan kawasan konservasi penyu yang dilakukan kelompok masyarakat pecinta lingkugan yang tergabung dalam LTC Amping Parak itu, sudah dimulai sejak tiga tahun lalu.

“Walau hanya diawali dengan semangat dan swdaya murni dari masyarakat, namun kawasan ini terlihat terus berkembang dari waktu ke waktu. Karena kawasan yang dulunya ini gersang telah berubah menjadi hijau, serta juga memiliki kawasan konservasi, sehingga kawasan ini dijadikan masyarakat sebagai wisata edukasi,” timpalnya.

Karena penyu merupakan satwa yang dilindungi, sehingga dia mengajak seluruh masyarakat untuk ikut menjaganya dari kepunahan.