Kisah Masa Kecil Megawati Tentang 2 Tokoh Minang, Begini Ceritanya

Megawati remaja (paling kiri) (foto: Ist)

Padangkita.com – Dalam pidato sambutan penyerahan gelar doktor kehormatan Honoris Causa (HC), mantan presiden Republik Indonesia Megawati Sukarno Putri sempat bercerita soal tokoh bangsa yang berasal dari Sumatera Barat.

Pertama beliau bercerita soal Bung Hatta. Menurutnya Bung Hatta adalah sosok yang dingin dan bersahaja. Bung Hatta menurutnya jauh berbeda dengan sang bapak yang humoris dan suka bicara.

“Bung Hatta itu seorang ilmuan tulen, kalau pidato menunduk terus. Itulah sosok Bung Hatta kita,” katanya dalam pidato penyerahan gelar doktor kehormatan HC dari Universitas Negeri Padang (UNP), Rabu (27/09/2017).

Megawati pun bercerita tentang H. Agus Salim, seorang tokoh politik dan ulama besar yang lahir di Koto Gadang, Agam, Sumatera Barat, Hindia Belanda, 8 Oktober 1884.

Menurutnya, Agus Salim adalah sosok orang yang pintar dan istimewa. Bagaimana tidak, Agus Salim memiliki kemampuan menguasai 9 bahasa asing.

Dalam kesehariannya, Megawati memanggil Agus Salim dengan sebutan Pace dan Ibu Agus Salim dengan Mace. Pengertian kata Pace dan Mace sendiri berdasarkan etimologi kata Pace dan Mace berasal dari bahasa Fakfak yang artinya Om dan Tante.

“Ngga tahu kenapa Agus Salim dipanggil Pace, kalau ibu Agus Salim dipanggil Mace sama bapak (Soekarno). Entah dari mana asal panggilan itu,” kata Megawati.

Dia juga menggambarkan sosok Agus Salim yang berbadan kurus, memakai kopiah dan jenggot, jalan petantang petenteng, dan suka menghisap cerutu.

“Beliau kalau berjalan petantang Petenteng, tolak pinggang dengan cerutunya. Saya tidak tahu dari mana beliau dapat cerutu, padahal waktu itu cerutu mahal sekali,” lanjutnya.

Agus Salim di antara tahun 1946-1950 laksana bintang cemerlang dalam pergolakan politik Indonesia, sehingga kerap kali digelari “Orang Tua Besar” (The Grand Old Man).

Ia pun pernah menjabat Menteri Luar Negeri RI pada kabinet Presidentil dan pada tahun 1950 sampai akhir hayatnya dipercaya sebagai Penasehat Menteri Luar Negeri.

Ia meninggal dunia pada 4 November 1954 di RSU Jakarta dan dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.

Seperti diketahui, Mantan Presiden Republik Indonesia Megawati Sukarnoputri hari ini, Rabu (27/09/2017) menerima gelar doktor kehormatan (HC) dari Universitas Negeri Padang (UNP).

Anak dari proklamator kemerdekaan tersebut mendapat gelar kehormatan berkat sumbangsihnya dalam dunia pendidikan. Salah satunya keberpihakan pemerintah di zamannya yang mengalokasi anggaran pendidikan harus minimal 20 persen dari alokasi APBN pusat atau APBD di daerah.

Megawati juga dianggap sebagai pelopor lahirnya Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Megawati dalam orasi ilmiahnya mengatakan bahwa dirinya selalu memperjuangkan kampus untuk menjadi centre of science. Kampus menurutnya tidak hanya menjadi pencetak tenaga ahli dan tenaga terampil bagi pembangunan. Namun harus bisa menghasilkan riset yang dapat digunakan untuk acuan dalam keputusan politik pembangunan.

(Aidil Sikumbang)