Kelurahan Kayu Kubu jadi Perkampungan Minang di Bukittinggi

Warga beramaikan pelataran kawasan Jam Gadang Kota Bukittinggi untuk menyaksikan gerhana bulan total (Foto: aidil sikumbang)

Padangkita.com – Pemerintah Kota Bukittinggi berencana menjadikan kawasan Ngarai Sianok di Kelurahan Kayu Kubu, Kecamatan Guguak Panjang, dijadikan Perkampungan Minang.

Salah satu pendukung Perkampungan Minang itu adalah lahan persawahan. Selain kawasan pertanian, sawah tersebut akan dijadikan destinasi wisata baru sekaligus mendukung perkampungan Minangkabau.

Hal itu diawali dengan terlaksana nya kegiatan panen bersama, yang dilakukan petani setempat, dan juga dihadiri Wali Kota Bukittinggi, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Camat dan Lurah se Kecamatan Guguak Panjang,  anggota DPRD, Niniak Mamak, dan Bundo Kanduang. Kegiatan ini juga dihadiri sejumlah wisatawan mancanegara yang ikut menyaksikan panen raya.

Menanggapi rencana Pemko Bukittinggi itu Ketua LPM Kelurahan Kayu Kubu mewakili Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Eril Anwar mengatakan, luas lahan pertanian yang di panen hari ini berjumlah 3,09 hektar. Seluruhnya dikelola 17 petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Ngarai Saiyo.

“Di kawasan Ngarai Sianok ini selalu dilaksanakan panen bersama, minimal dua kali dalam setahun. Saat ini, juga tersedia lahan kering seluas 3 hektar dan berpotensi jadi lahan pertanian pariwisata terpadu. Dengan adanya jalan usaha tani yang sudah dicor saat ini, dapat menjadi destinasi wisata baru di Bukittinggi,” terangnya.

Pada kesempatan yang sama Camat Guguak Panjang Rispayanto mengucapkan terima kasih kepada Keltan Ngarai Saiyo yang telah melaksanakan panen padi dan syukuran ini.

“Dengan upaya ini, tentu akan mengurangi hama tikus dan hasil panennya akan lebih maksimal, maka dari itu diharapkan pada seluruh kelompok tani untuk bersatu meningkatkan hasil pertanian serta mendukung program pemko menjadikan kawasan ini menjadi kawasan wisata pertanian,” ulasnya.

Kedepan sambung Rispayanto, hendaknya lahan pertanian ini tetap dipertahankan dan produksi padi bisa meningkat, bukan tidak mungkin kedepan wisatawan asing dapat diundang ke sawah ini untuk panen dalam rangka mendukung Perkampungan Minang ini. Nantinya juga akan direncanakan dengan Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) dan Asosiasi Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA).

Sementara itu Wali Kota Bukittinggi M. Ramlan Nurmatias mengatakan, walaupun Bukittinggi bukan daerah pertanian, namun ada lahan pertanian yang harus dipertahankan seperti di Kecamatan Aua Birugo Tigo Baleh dan Kelurahan Kayu Kubu ini.

“Sawah ini masih bisa dipertahankan menjadi lokasi pertanian. Ini harus tetap dijaga dan ditingkatkan. Kita harapkan kedepan, sawah yang ada ditanam dengan bibit dan sistem yang sama semuanya. Sehingga nantinya tampak keseragaman dan menjadi sebuah keindahan tersendiri.Menanam padi jangan beda-beda serta serentak menanam serentak memanen,” ungkapnya.

M. Ramlan Nurmatias juga menyampaikan impiannya menjadikan Ngarai Sianok menjadi perkampungan Minang Tempo Dulu. Seluruh rumah akan diganti dengan atap bagonjong dengan ijuk hitam dan pakaian warganya harus khas Minang.

“Selain mengembalikan khazanah Minangkabau di kota Bukittinggi, hal ini tentu akan menjadi paket wisata yang dapat dijual kepada wisatawan khususnya paket wisata budaya.Konsepnya adalah Minang Islam Tempo Dulu. Dimana, masyarakat pergi ke Mushalla pakai sarung dan kaum ibu ke pasar memakai Tikuluak dan sebagainya. Kita akan tampilkan Nuansa Islam,” jelasnya.

Disamping itu sambung M. Ramlan Nurmatias, kedepan juga dapat dilestarikan lagi permainan tradisional tempo dulu dan lainnya. Nanti, akan datang konsultan dari pusat untuk melihat rencana Perkampungan Minang di Ngarai ini. Kita harus mengutamakan keamanan dan kenyamanan tamu yang datang ke ngarai. Selain itu, saat ini kawasan Ngarai juga dijadikan kawasan Geopark. Dimana keasliannya akan dikembalikan seperti sediakala.

(Guspra Koto)