Jualan Nasi Padang, Pedagang Kaki Lima ini Beli Lahan Sawit Miliaran Rupiah

Padangkita.com – Rezeki memang tidak berpintu. Dari jualan nasi padang di sekitar stasiun Tanah Abang, Jakarta, Ridwan Ma’ruf bisa membeli lahan sawit senilai miliar rupiah.

Dikutip dari kompas.com, pada mulanya Ridwan adalah tukang pangkas. Namun kemudian dia merubah bisnisnya, yakni membuka rumah makan. Akhirnya, hasil pendapatan dari bisnis pangkas rambut yang dikumpulkannya dipakai untuk menyewa kios.

Ridwan akhirnya menyewa ruko di sekitar Stasiun Tanah Abang dengan tarif 47 juta selama 1 tahun. Itu dimulai dilakukannya pada tahun 2009 silam.

Dari pengakuannya, Ridwan mengatakan bisa melakukan transaksi sebesar Rp 5 juta per hari. Dari jumlah tersebut Ridwan bisa menyimpan keuntungan bersih Rp 2 juta. Hasil keuntungan tersebut dikumpulkan hari demi hari.

Setelah berapa tahun berjalan, uang yang dikumpulkan oleh Ridwan ingin dia investasikan untuk masa depan. Ridwan akhirnya membeli tanah dan perkebunan. Tidak tanggung-tanggung, jumlah uang yang dikeluarkan Ridwan mencapai 1.2 miliar rupiah.

Uang tersebut semuanya berasal dari usaha dagang rumah makan miliknya. Luas lahan yang dibelinya mencapai 18 hektar.

“Dari hasil berjualan nasi di dekat stasiun itu saya belikan kebun sawit. Sampai sekarang masih ada kebunnya,” katanya dikutip dari kompas.com, Minggu (11/03/2018).

Hingga saat ini Ridwan masih terus menggeluti usaha rumah makannya.

Cerita lain tentang kesuksesan dalam mengelola rumah makan juga di alami oleh Erita Lubeek.

Mungkin belum banyak yang mengenal nama Erita Lubeek. Namun bagi pecinta kuliner, khususnya makanan Minang di Belanda tahu dengan wanita yang satu ini.

Dialah pemilik restoran pertama yang ada di Eropa, yakni Salero Minang. Restoran ini berada di kota Den Haag, tidak jauh dari Kantor Biro Republik Indonesia (KBRI) Den Haag. Erita Lubeek berasal Koto Panjang, Taluak, Batang Kapeh, Kabupaten Pesisir Selatan.

“Salero Minang merupakan restoran Padang asli yang berada di negara Eropa,” kata Erika Lubeek, sebagaimana dikutip dari Republika.

Dirinya menjelaskan, restoran Salero Minang didirikan pada tahun 2011 silam. Seperti halnya restoran Padang lainnya di Indonesia, Salero Minang juga menyediakan beragam kuliner khas Ranah Minang, namun telah disesuaikan dengan lidah orang-orang Eropa yang lebih menyukai rasa manis daripada pedas.

Makanan yang ada di restoran ini menggunakan bumbu asli dari Ranah Minang. Hal ini yang membuat beda. Tak akan ada yang berubah dari soal rasa kecuali rasa manis tadi. Erika menyatakan bahwa dirinya akan mempertahankan kemurnian bumbu asli Ranah Minang dalam masakannya.

Di restoran ini ada beragam menu yang disediakan. Sebut saja gulai tunjang (kikil), gulai otak, rendang, dendeng balado, ayam pop, gulai kepala ikan, udang balado petai, telur balado, gulai daun singkong jengkol balado, ayam singgang bakar, dan sambal lado hijau rawit yang sangat pedas.

Erita menyebutkan awal mula usaha mendirikan restoran tersebut saat dia dan suaminya Marko Lubeek (Abdul Malik), orang Belanda, diminta oleh kedutaan Belanda untuk kembali ke Belanda pada masa krisis moneter melanda Indonesia tahun 1998 silam.