Jembatan Akar Masuk Nominasi API 2018

(Jembatan Akar di Nagari Puluik-Puluik Kecamatang IV Nagari, Bayang Utara, Pesisir Selatan – Foto: http://www.pesisirselatankab.go.id)

Padangkita.com – Setelah Kawasan Wisata Bahari Terpadu Mandeh terpilih sebagai Surga Tersembunyi Terpopuler API 2017, pada 2018 ini salah satu objek wisata Pesisir Selatan (Pessel) kembali masuk nominasi Anugerah Pesona Indonesia (API).

Kali ini, Jembatan Akar di Kecamatan Bayang Utara masuk nominasi kategori kawasan terunik atau Objek Wisata Unik Terpopuler (Most Popular Unique Tourism Spot) API 2018.

Ketua TP-PKK Pesisir Selatan, Lisda Hendrajoni, dilansir dari pesisirselatankab.go.id, mengaku bangga dengan populernya pengembangan periwisata di daerah tersebut. Momen dua tahun beturut-turut ini, kata Lisda, menjadi ajang promosi yang baik untuk Pessel dalam memopulerkan kawasan wisata yang ada di daerah tersebut.

Lisda mengajak masyarakat Pessel untuk ikut berpatisipasi dalam mendukung Jembatan Akar menjadi pemenang nominasi pada API 2018.

“Saatnya kita berjuang lagi, kita imbau masyarakat Sumatera Barat (Sumbar) khususnya Pessel bisa memberikan dukungan terbaik untuk memenangkan Jembatan Akar jadi pemenang API kawasan unik terpopuler 2018,” sebut Lisda, Senin (28/5/2018).

Dia menjelaskan, agar Jembatan Akar masuk jadi pemenang dalam nominasi API 2018, sangat dibutuhkan dukungan bersama dari masyarakat. Sebab, dengan melejitnya kepopuleran wisata di Pessel akan menjadi nilai jual tersendiri untuk memajukan pariwisata di daerah itu.

“Intinya kita harus berjuang bersama seperti saat memperjuangkan Mandeh dalam ajang Surga Tersembunyi Terpopuler API 2017. Kalau kita ada gelar juara, akan enak buat promosi karena memang ada pengakuan, bahwa Pessel indah,” jelasnya.

Sebelumnya, pengumuman salah satu destinasi wisata daerah kembali masuk kategori nominasi Ajang API langsung diterima dari Kementerian Pariwisata pusat. Dikatakan objek wisata Jembatan Akar di Pessel yang terletak di Nagari Puluik Puluik, Kecamatan IV Nagari Bayang Utara masuk nominasi wisata Unik Terpopuler API 2018.

“Kita menerima langsung surat dari Kementrian Pariwisata, dan mereka memberitahu kalau Jembatan Akar masuk dalam nominasi API 2018. Kebangaan kita itu, salah satunya sebagai kategori kawasan wisata terunik,” sebut Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Mawardi Roska.

Untuk mendukung objek wisata Jembatan Akar menjadi pemenang API 2018, cukup dengan cara mengetik API (spasi) 16E melalui SMS kirim ke 99386 atau melalui aplikasi API yang bisa di download melalui Play Store. Pemberian dukungan dimulai pada 1 Juni sampai 31 Oktober 2018.

Baca juga:
10 Calon Jemaah Haji asal Embarkasi Padang Wafat, Berikut Daftar Namanya

Selain Jembatan Akar, ada 7 kawasan di Sumbar yang juga masuk nominasi kategori wisata Unik Terpopuler API 2018.

Ketujuh kawasan tersebut, yaitu Makanan Tradisional Terpopuler Kue Pare Pasaman, Minuman Tradisional Terpopuler Aia Aka Bukittingi, kawasan Dataran Tinggi Terpopuler Lawang Park Agam, Atraksi Budaya Terpopuler Pacu Jawi Tanah Datar, Kampung Adat Terpopuler Balai Kaliki Payakumbuh, dan Situs Sejarah Terpopuler Rumah Gadang Solok Selatan.

Jembatan Akar

Jika datang ke Kabupaten Pesisir Selatan, pengujung bisa menyinggahi kawasan wisata ini dari persimpangan kecamatan Bayang menuju Kenagarian Puluik-puluik, Kecamatan IV Nagari Bayang Utara dengan jarak sekitar 10 km.

Dari persimpangan Bayang menuju ke lokasi Jembatan Akar ini persis berada di jalan Nasional lintas Sumatera bagian Barat yang menghubungkan Padang ke Painan, Muko-Muko dan Bengkulu.

Pengunjung bisa datang  menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Butuh waktu sekitar 30 menit untuk sampai di lokasi.

Menurut cerita masyarakat setempat, Jembatan Akar ini tercipta karena ada seorang ulama besar bernama Pakia Sokan yang berniat menyatukan dua kampung masyarakat di Kenagarian Puluik-puluik yang terpisahkan oleh aliran sungai Batang Bayang. Kedua kampung tersebut, yaitu kampung Puluik-puluik dan Kampung Lubuk Silau Batang Bayang

Untuk menyatukan akses, kedua kampung ini mencoba membuat lintasan menggunakan akar pohon-pohon besar yang ada di sekitar sungai. Akar yang digunakan untuk merajut jembatan adalah akar Beringin.

Jembatan Akar diperkirakan mulai dirajut semenjak tahun 1890 hingga dapat digunakan pada tahun 1916. Proses merajut akar hingga menjadi jembatan utuh memakan waktu hingga 26 tahun. Hingga saat ini, Jembatan Akar sudah berusia lebih dari 100 tahun.