“Inyiak” dalam Kearifan Lokal Minangkabau

E.G.A. Lapré (Controleur di Painan) dan seorang pembantunya bersama seekor harimau yang telah mati. Foto pada tahu 1937. (Foto : kitlv.nl)

Padangkita.com – Keberlangsungan hidup Harimau Sumatera atau Panthera Tigris Sumatrae semakin terancam.

Selain perburuan liar, konflik dengan manusia juga menjadi ancaman serius terhadap hewan yang digolongkan ke dalam kategori satwa kritis terancam punah (critically endangered) ini.

Konflik Harimau dengan masyarakat Mandailing Natal, Sumatera Utara pada awal Maret 2018 lalu merupakan salah satu bentuk perselisihan yang berujung tragis.

Menurut pemberitaan yang dilansir di nationalgeographic.co.id, kucing besar ini mati akibat ditombak dan ditembak ketika ditemukan beristirahat di bawah kolong rumah panggung warga. Jasadnya kemudian digantung di ruangan besar pasar untuk dipertontonkan. Ada yang menguliti wajah dan ada juga yang mengambil taringnya.

Beberapa hari kemudian, konflik berlanjut ke daerah Riau. Seorang warga di Provinsi Riau tewas diduga akibat serangan Harimau Sumatera.

Kasus tewasnya warga akibat diterkam Harimau tersebut sudah terjadi untuk kedua kalinya di tahun 2018. Kejadian ini membuat warga marah dan menuntut petugas untuk membunuh hewan tersebut.

Peristiwa masuknya Harimau ke daerah pemukiman dan ladang penduduk sebagai pemicu konflik masih berlanjut hingga sekarang.

Pada Kamis (12/4/2018), dilansir dari Padangkita.com, ditemukan sejumlah jejak baru Harimau Sumatera di Kabupaten Agam, Sumatera Barat (Sumbar).

Harimau itu dilaporkan memangsa ternak masyarakat, dan saat ini keberadaannya tengah diburu oleh petugas Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) resort Bukittinggi agar tidak terjadi konflik.

Selanjutnya, Jumat (13/4/2017), dua ekor Harimau diberitakan menerkam sapi milik warga di daerah Riau.

Konflik antara manusia dan Harimau sama-sama menimbulkan kerugian terhadap kedua belah pihak. Manusia dapat kehilangan nyawa dan harta benda, dan harimau dapat menghadapi kematian karena proses pengendalian atau penyingkiran dari habitat aslinya.

Pemangsaan hewan ternak dan penyerangan manusia oleh Harimau dapat mengarahkan pada sikap negatif terhadap Harimau dan konservasinya.

Rasa takut dan kemarahan terkait dengan hilangnya ternak atau luka pada manusia dan/atau kematian membuat orang membunuh Harimau. Hampir semua daerah di Sumbar memiliki kemungkinan untuk terjadi konflik.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Erlinda C. Kartika tentang Human-Tiger Conflict yang dipublikasikan di Researchgate.net, ada beberapa penyebab terjadinya konflik.

Penyebab tersebut, seperti ketersediaan habitat, ketersediaan mangsa, manajemen ternak serta penempatannya, perilaku manusia dan pola aktivitasnya, serta faktor sosial ekonomi. Dari beberapa poin tersebut, pembahasan akan lebih difokuskan pada faktor sosial ekonomi masyarakat.

Erlinda menjelaskan bahwa konflik dari segi manusia ditentukan oleh kombinasi berbagai faktor sosial budaya yang dinamis dan beragam. Faktor yang dapat mempengaruhi tingkat toleransi dan keparahan konflik harimau dengan manusia ke depan, yaitu sikap, persepsi, sistem kepercayaan, sistem pendidikan dan moral, agama, dan nilai ekonomis ternak bagi masyarakat.

Orang dengan sikap negatif terhadap predator tertentu cenderung mencegah kerusakan di masa mendatang dengan membunuh hewan yang terlibat konflik atau mendukung orang lain untuk membunuh hewan tersebut. Hal ini dapat berkontribusi terhadap pengurangan jumlah predator di alam.

Oleh sebab itu, penanaman lebih lanjut kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga keberlangsungan hidup Harimau perlu dilakukan agar mereka dapat hidup berdampingan.

Dalam bukunya yang berjudul  Frontiers of Fear: Tigers and People in the Malay World, 1600-1950, Peter Boomgaard menjelaskan bahwa manusia sudah hidup berdampingan dengan Harimau semenjak tahun 1600-an.

Salah satu hal yang dapat dilakukan adalah melestarikan kembali budaya kearifan lokal masyarakat yang berhubungan dengan Harimau.

Budaya kearifan lokal ini biasanya berupa cerita rakyat yang diceritakan secara turun temurun tentang bagaimana kedudukan Harimau dan cara masyarakat bersikap terhadap hewan tersebut.

Sayangnya, cerita ini cenderung dianggap sebagai mitos dan tidak lagi dilestarikan oleh generasi muda sekarang, sehingga Harimau dianggap sebagai musuh.

Masyarakat Sumbar memiliki beberapa sebutan untuk Harimau dan umumnya setiap daerah memiliki sebutan masing-masing.

Ada yang menyebut Harimau dengan inyiak balang, dan ada pula yang menyebutnya dengan ampang limo serta datuak. Istilah datuak biasanya digunakan untuk menyebut orang yang dituakan dalam adat dan begitu pun dengan inyiak untuk orang yang dituakan dan dihormati.

Menyebut kata Harimau secara langsung adalah tabu. Ketika dulu saya masih duduk di bangku sekolah dasar, tanpa sengaja saya menyebut nama Harimau. Tapi, nenek langsung menegur dan meminta saya mengganti sebutan dengan inyiak.

Masyarakat di sana percaya bahwa Harimau tidak akan muncul di hadapan manusia apabila mereka tidak berbuat salah. Hanya orang-orang yang melakukan kesalahan lah yang akan bertemu dengan Harimau.

Cerita tentang hubungan manusia dengan harimau di Sumatera Barat dan alasan orang menghormati harimau, juga pernah ditulis oleh Erlinda C. Kartika dan diterbitkan di dalam majalah Rimueng volume 5.

Cerita tersebut adalah kisah seorang pangeran dari kerajaan minangkabau yang membantu anak Harimau yang jatuh ke dalam jurang dan terjepit di rumpun bambu.

Sebagai balasan atas jasa pangeran tersebut, ayah dari anak Harimau tersebut berjanji untuk tidak mengganggu anak cucu pangeran dan membantunya jika tersesat di dalam hutan, namun dengan syarat, siang adalah waktu bagi manusia dan malam adalah waktu bagi Harimau.

Akhirnya sang pangeran pun sepakat dengan syarat tersebut.  Sebagai bentuk penghormatan sang pangeran memanggil sang raja rimba dengan Inyiak.

Keesokan harinya, sang pangeran pun pulang dan segera menyampaikan kepada seluruh rakyatnya tentang kesepakatanya dengan sang raja rimba dan mengingatkan kepada masyarakat untuk segera pulang ke rumah ketika malam menjelang.

“Itulah kenapa kami selalu sudah pulang ke rumah sebelum magrib, karena jatah kami itu siang hari dan jatah sang inyiak itu malam hari,” ujar Jafran (59) menutup ceritanya, dikutip dari majalah Rimueng, Sabtu (14/4/2018).

Cerita rakyat tersebut di atas dapat menjadi salah satu sarana untuk kembali menyadarkan masyarakat bahwa mereka dapat hidup berdampingan dengan Harimau demi menjaga keseimbangan alam.

Kita dapat mengambil pelajaran bahwa segala sesuatu yang terjadi dengan Harimau tentu ada penyebabnya dan tidak langsung menjadikan hewan tersebut sebagai musuh yang harus dimusnahkan.

Hal ini tentunya harus didampingi dengan pembekalan yang cukup kepada masyarakat tentang tindakan yang harus dilakukan apabila bertemu dengan raja hutan sehingga tidak ada lagi korban jiwa.