Ini Daftar Penulis asal Sumbar dalam 14 Tahun UWRF, Siapa Saja?

UWRF 2017

Padangkita.com – Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2017 akan kembali digelar pada 25-29 Oktober 2017. UWRF merupakan festival Sastra dan Seni terbesar untuk kawasan Asia Tenggara.

Tidak mudah untuk bisa menjadi peserta dalam kegiatan tersebut. Karena penyelenggara melakukan seleksi ketat atas karya yang dikirim oleh sejumlah calon peserta dari seluruh Indonesia. Pada tahun ini hampir 1.000 karya yang masuk sedangkan yang terpilih hanya 15 karya saja.

Tahun ini Sumatera Barat kembali mengirimkan dua wakil dalam ajang temu penulis sastra dan seni tersebut. Mereka adalah yakni Mohamad Isa Gautama dan M. Subhan.

UWRF ini mulai digelar pda tahun 2004 silam dan hingga penyelenggaraan di tahun 2017 ini penulis dari Sumbar yang terpilih menjadi wakil sebanyak 16 orang, di luar 2 yang baru terpilih.

Jika dirunut penulis asal Sumatera Barat yang diundang mengikuti UWRF dimulai dari tahun 2004, yakni Gus Tf Sakai. Diikuti Iyut Fitra (2008), Romi Zarman dan Esha Tegar Putra (2009), Arif Rizki, Magriza Novita Syahti, Andha S, dan Zelfeni Wimra (2010), Pinto Anugrah dan Ragdy F. Daye (2011), Budi Saputra (2012), Gusrianto (2013), S Metron Masdison dan Rio Fitra SY (2014), Deddy Arsya (2015), dan Soetan Radjo Pamoentjak (2016).

Baca Juga:
Mengenal Ubud Writers and Readers Festival
2 Penulis Sumbar Ikuti Festival Sastra dan Seni Terbesar se-Asia Tenggara

 

S Metron Masdison, salah satu peserta yang berasal dari Sumatera Barat mengikuti kegiatan tersebut pada tahun 2014 lalu. Menurutnya, untuk bisa mengikuti kegiatan tersebut ada seleksi karya yang dilakukan oleh penyelenggara.

“Saya mengirimkan buku yang memang dipersiapkan untuk acara tersebut. Alhamdulillah lolos,” katanya kepada Padangkita, Kamis (13/07/2017).

Menurutnya banyak manfaat yang didapat dari kegiatan tersebut. Di antaranya mengetahui perkembangan sastra terbaru di dunia dan membuka relasi baru. Dirinya pun mengaku pernah ditawari untuk ke Inggris.

Dirinya pun menolak dan mengatakan bahwa untuk menggemparkan dunia tidak harus di dunia luar, cukup dari kampung saja.

“Panutan saya A.A Navis, wisran Hadi dan Ery Mefri, dari kampung bisa mengguncangkan dunia,” tambahnya.

Waktu itu, dalam UWRF 2014 dirinya merupakan satu-satunya penulis naskah drama yang mengikuti kegiatan tersebut. Dia mengatakan bahwa sebenarnya Sumatera Barat juga bisa membuat hal yang serupa dengan Bali, namun harus ada “orang kaya yang gila” akan sastra. Jika tidak, akan susah membuat acara serupa atau melebihi yang ada di Ubud, Bali saat ini.

“Bali sudah 14 kali mengadakan, padahal jumlah sastrawannya tidak sebanyak yang dimiliki oleh Sumatera Barat,” pungkasnya.

Sementara itu, Esha Tegas Putra yang mewakili Sumatera Barat pada 2009 menyatakan dia terpilih menjadi peserta setelah mengirimkan 30 karya kepada penyelenggara. Puisi-puisi yang dikirim merupakan puisi-puisi yang telah diterbitkan oleh media massa.

“Waktu itu saya bersaing dengan 150 penulis lainnya se Indonesia,” katanya kepada Padangkita.com.

Tahun 2009, menurutnya, penulis asal Sumatera Barat yang terpilih ada dua yakni dirinya sendiri dan Romi Zarman. Dia pun mengaku senang karena bisa bertemu dengan sejumlah penulis-penulis Indonesia lainnya. Dan waktu itu WURF dihadiri 90 penulis dari belahan dunia termasuk pemenang Nobel Sastra, Wole Soyinka (Nobel Sastra 1986).

Menurut Esha, tahun 2009 itu Sumatera Barat dilanda gempa bumi, panitia menelpon dirinya menanyakan bagaimana kondisinya di Padang.

“Panitia selalu menelpon dan menanyakan kabar rekan-rekan di Padang pasca gempa. Mereka tidak memaksakan dirinya untuk menghadiri kegiatan tersebut, namun karena sudah berjanji, akhirnya saya berangkat,” jelasnya.

Esha menambahkan dalam UWRF tersebut dia mengikuti beberapa penel diskusi dan juga menjadi pembicara beberapa penulis dari negara lain.

Banyak manfaat yang didapat dari kegiatan tersebut, menurutnya salah satunya adalah memperluas jaringan kerja penulisan dan ilmu-ilmu penulisan lainnya.

BAGIKAN