Go-jek Ditolak di Bukittinggi, Ini Tanggapan Warganet

Ilustrasi Go-Jek (Foto: Youtube)

Padangkita.com – Kehadiran Go-Jek di Bukittinggi ditolak oleh Organisasi Angkutan Daerah (Organda) kota Bukittinngi dan sejumlah pengusaha angkutan kota.

Ketua Organda Bukittinggi, Syafrizal mengatakan bahwa kehadiran Go-Jek mengurangi pendapatan para supir angkot yang beroperasi di Bukittinggi. Dan menurutnya Go Jek masih merupakan angkutan yang tidak jelas, karena belum diatur dalam Undang-undang angkutan jalan.

“Dari hitungan Organda, kehadiran Go Jek mampu menyedot penghasilan mereka. jika satu unit Go Jek berpenghasilan Rp 100 Ribu per hari, maka sudah Rp 20 Juta penghasilan angkot yang berpindah,” katanya kepada wartawan, Kamis (10/08/2017).

Selain itu, kemarin para supir angkutan kota pun melakukan aksi mogok massal. Aksi ini dilakukan sebagai bentuk protes atas kehadiran transportasi berbasis aplikasi, Go-Jek. Akibat aksi ini, akses transportasi publik di Bukittinggi lumpuh.

Menanggapi hal ini, para warganet (netizen) pun bersuara dan menyampaikan pandangannya masing-masing.

Satria Kahar dalam akun facebooknya menuliskan “Kalau ndak amuah di tingga pelanggan. Angkot mesti berbenah diri. Dimulai dari tingkah laku sopir di jalanan supayo urang simpati sampai ka pelayanan ka panumpang”. (kalau tidak mau ditinggal pelanggan, angkot harus berbenah. Dimulai dari tingkah laku supir di jalanan. Agar orang simpati hingga pelayanan
penumpang).

Sementara itu, Edriandi Maidi menuliskan dalam akun facebooknya, “Angkot di Bukittinggi ko, kondak panuah dari pasa bawah ka Aua kuniang indak bajalannyo. Baitu pulo sabaliaknyo dari Aua ka pasa ateh/bawah. Sebagai penumpang, indak ado kanyamanan dalam oto tu do,ngebut ndak karuan saliang mandahului sasamo angkot. Marem mandadak dek ngebut,iyo jantuangan klu naiak angkot di kota Bukittinggi ko. Bravo utk gojek/ojek di Bukiktinggi. Alah layak gojek di Bukiktinggi ko sebagai penunjang wisata dgn ongkosnyo sangat standar”.

(Angkot di Bukittinggi kalau tidak penuh (membawa penumpang) tidak mau jalan. Begitu pula sebaliknya. Sebagai penumpang tidak ada rasa kenyamanan, ngebut dan saling mendahului sesama angkot. Berhenti mendadak, jantungan kalau naik angkot di Bukittinggi. Bravo untuk Go-Jek dan ojek. Sudah semestinya Go-Jek ada di Bukittinggi untuk mendukung wisata dengan ongkos yang standar).

Nedy Taufiq menuliskan dalam akun media sosialnya, “Suai Bana. Klo gak mau ketinggalan ya harus berinovasi. Tingkatkan pelayanan. Jangan ugal2an dijalan. Ingat yg dibawa manusia loh. Bukan barang yg bisa d banting gitu aja”.

Sementara Ricardo Arfin Saputra berpandangan, “Yang ka karajo urang wak juo nyo, apo salanyo, sajauhko di jawa, gojek mambantu bana, tarutamo bagi yg ka lokasi tertentu pas wakatu mandasak, kalau angkot lamo ngetem nyo, kadang urang butuah capek. Tergantung pemerintah daerah se mansikapinyo”.

(Yang bekerja orang kita juga, apa salahnya. Selama ini di jawa, Go-Jek sangat membantu, terutama bagi yang ke lokasi tertentu disaat yang mendesak. Kalau angkot lama ngetemnya. Tergantung pemerintah menyikapinya).

Linda Yarni menuliskan, “Pelayanan gojek memuaskan, tidak ugal2an, ramah, sebaliknya ojek konvensional dan angkot konvensional ugal2an, tidak memperhatikan keselamatan penumpang. Oleh krn itu, hrs berbenah, tingkatkan pelayanan, pasti bisa bersaing”.

BAGIKAN