Genjer-Genjer, Lagu Perjuangan Masa Jepang yang Terlarang

Piring Hitam (Foto/Esquire.co.id)

Setiap bait kata lagu Genjer-Genjer kini telah melekat stigma sebagai lagu terlarang. Walaupun zaman telah berganti, rezim keterbukaan informasi, rasa itu tidak mudah hilang, Ia melekat abadi.

PERNAH diasosiasikan sebagai ‘lagu PKI’, lagu Genjer-Genjer ternyata pernah menjadi lagu perjuangan rakyat Indonesia pada masa pendudukan Jepang di Indonesia. Namun, pada pada masa orde baru lagu Genjer-Genher sempat dilarang disebarluaskan di Indonesia karena dianggap ‘berbau PKI’.

Akibat stigmastisasi itu, pencipta lagu Genjer-Genjer, Muhammad Arif, terbunuh dalam serangkaian peristiwa tragedi pembantaian komunis pada tahun 1965 – 1966 di Indonesia. Ia dianggap terlibat dalam organisasi massa onderbouw PKI.

Tidak banyak generasi muda saat ini tahu tentang histori dan makna dibalik lagu Genjer-Genjer. Meskipun sejak masa refromasi segala bentuk pengekangan terhadap akses informasi (memperoleh, mengolah, dan menyebarluaskan) tidak lagi dibatasi, tapi masih banyak yang phobia membicarakan lagu Genjer-Genjer, karena dianggap warisan PKI.

Lagu Genjer-Genjer ternyata begitu disukai dan dinyanyikan pada berbagai kesempatan oleh rakyat kalangan bawah, karena dianggap menggambarkan penderitaan rakyat kelas bawah.

Tapi, tahukah anda tentang historis dan makna lagu Genjer-Genjer ini bagi rakyat Indonesia dulu?

Diasosiasikannya lagu Genjer-Genjer sebagai lagu PKI, bermula pada masa 1959-1966. Ketika itu, lagu ‘Genjer-Genjer’ sangat popular dikalangan rakyat kelas bawah di Indonesia, terutama di beberapa daerah di Pulau Jawa. Partai Komunis Indonesia (PKI) ketika itu melancarkan kampanye besar-besaran untuk meningkatkan popularitas.

Lagu Genjer-Genjer menjadi salah satu alat propaganda yang digunakan oleh PKI. Tak ayal, lagu Genjer-Genjer ternyata begitu disukai dan dinyanyikan pada berbagai kesempatan oleh rakyat kalangan bawah, karena dianggap menggambarkan penderitaan rakyat kelas bawah ketika itu. Akibatnya, orang mulai mengasosiasikan lagu ini sebagai lagu PKI.

Tak dapat dipungkiri, bait-bait syair dalam lagu Genjer-Genjer memang sangat menyentuh rakyat Indonesia kelas bahwah ketika itu. Lagu Genjer-Genjer sangat luwes menggambarkan kesengsaraan rakyat. Lagu Genjer-Genjer adalah kritik terhadap penguasa. Ini pulalah yang menyebabkan PKI menggunakan lagu Genjer-Genjer menjadi alat propaganda ketika itu. Ternyata PKI berhasil. Lagu Genjer-Genjer begitu melekat di hati rakyat.

Baca juga:
Padang Diberi Label Kota Asuransi

Tapi, tahukah anda, belasan tahun sebelum lagu Genjer-Genjer dicap sebagai lagu PKI, lagu ini sudah sangat populer di kalangan masyarakat Indonesia. lagu Genjer-Genjer diangkat dari lagu dolanan yang berjudul “Tong Alak Gentak”, yang merupakan lagu rakyat masyarakat di Banyuwangi.

Upaya yang dilakukan Muhammad Arif dalam menciptakan syair lagu Genjer-Genjer, sangat mencerminkan kedewasaannya dalam memahami fungsi sastra lisan.

Oleh Muhammad Arif, seorang seniman pemukul alat instrumen angklung ketika itu, rangkaian nada lagu Tong Alak Gentak diberi syair baru. Maka terciptalah lagu Genjer-Genjer.

Sejak tahun 1942, karena syairnya sangat menarik, dan sering dimainkan, lagu Genjer-Genjer menjadi sangat terkenal, dan lekat dihati masyarakat. Syair dalam lagu Genjer-Genjer yang dibuat oleh Muhammad Arif, ternyata dimaksudkan sebagai sindiran kepada Jepang yang menjajah Indonesia ketika itu.

Saat itu kondisi rakyat indonesia miskin dan sengsara. Jika dulu ‘genjer’ (limnocharis flava) tanaman gulma yang tumbuh di rawa-rawa dikosumsi itik, namun karena kesengsaraan, genjer menjadi makanan yang terasa sangat lezat bagi rakyat Indonesia ketika itu.

Upaya yang dilakukan Muhammad Arif dalam menciptakan syair lagu Genjer-Genjer, sangat mencerminkan kedewasaannya dalam memahami fungsi sastra lisan, yaitu sebagai kritik sosial, menyidir penguasa dan alat perjuangan.

Setelah Indonesia merdeka, lagu Genjer-genjer menjadi semakin populer. Lagu ini banyak dibawakan penyanyi-penyanyi dan disiarkan di radio Indonesia. Diantaranya Lilis Suryani dan Bing Slamet.

Namun, setiap bait kata lagu Genjer-Genjer kini telah melekat stigma sebagai lagu terlarang. Walaupun zaman telah berganti, rezim keterbukaan informasi, rasa itu tidak mudah hilang. Ia melekat abadi.

Berikut lirik lagu Genjer-Genjer

Versi asli sesuai ejaan Bahasa Osing Banyuwangi

Genjer-genjer nong kedokan pating keleler
Genjer-genjer nong kedokan pating keleler
Emake thulik teka-teka mbubuti genjer
Emake thulik teka-teka mbubuti genjer
Ulih sak tenong mungkur sedhot sing tulih-tulih
Genjer-genjer saiki wis digawa mulih

Genjer-genjer isuk-isuk didol ning pasar
Genjer-genjer isuk-isuk didol ning pasar
Dijejer-jejer diuntingi padha didhasar
Dijejer-jejer diuntingi padha didhasar
Emake jebeng padha tuku nggawa welasah
Genjer-genjer saiki wis arep diolah

Genjer-genjer mlebu kendhil wedang gemulak
Genjer-genjer mlebu kendhil wedang gemulak
Setengah mateng dientas ya dienggo iwak
Setengah mateng dientas ya dienggo iwak
Sego sak piring sambel jeruk ring pelanca
Genjer-genjer dipangan musuhe sega

Terjemahan Bahasa Indonesia

Baca juga:
Erets Israel Koran Propaganda Yahudi di Tanah Minang

Genjer-genjer di petak sawah berhamparan
Genjer-genjer di petak sawah berhamparan
Ibu si bocah datang mencabuti genjer
Ibu si bocah datang mencabuti genjer
Dapat sebakul dia berpaling begitu saja tanpa melihat
Genjer-genjer sekarang sudah dibawa pulang

Genjer-genjer pagi-pagi dijual ke pasar
Genjer-genjer pagi-pagi dijual ke pasar
Ditata berjajar diikat dijajakan
Ditata berjajar diikat dijajakan
Ibu si gadis membeli genjer sambil membawa wadah-anyaman-bambu
Genjer-genjer sekarang akan dimasak

Genjer-genjer masuk periuk air mendidih
Genjer-genjer masuk periuk air mendidih
Setengah matang ditiriskan untuk lauk
Setengah matang ditiriskan untuk lauk
Nasi sepiring sambal jeruk di dipan
Genjer-genjer dimakan bersama nasi