Generasi Zaman Now, Kenalilah Pahlawanmu!

Ilustrasi. (Foto : Ist)

BEBERAPA orang mahasiswa dari salah satu perguruan tinggi di kota Padang mengaku bahwa ia tidak menyadari kalau hari ini (10 November) adalah Hari Pahlawan. Euforia peringatan momen ini tidak begitu terasa sehingga mereka sempat lupa. Ketika diminta untuk menyebutkan nama pahlawan nasional yang berasal dari Sumatera Barat, paling banyak yang bisa disebutkan hanya lima nama dari 15 nama. Itu pun hanya sekadar tahu nama.

Fenomena ini menunjukkan kurangnya pemahaman anak muda sekarang tentang pahlawan. Lalu, bagaimana generasi muda bisa menghargai jasa pahlawan, jika mereka sendiri tidak tahu besarnya perjuangan parapahlawan untuk meraih kemerdekaan?

Sehubungan dengan hal tersebut, ada satu caption menarik yang muncul di akun instagram pribadi saya. “Pahlawan zaman now itu, tetap ingat sejarah bangsamu, untuk apa mereka rela berkalang tanah: kemerdekaaan, kebebasan”. Walaupun disampaikan dalam bahasa yang ringan, tapi cukup menyentakkan. Membuat kita berpikir kembali, apa sesunggungnya yang diperjuangkan dan kemerdekaan seperti apa sebenarnya yang diharapkan oleh pahlawan kita dahulu?

Kita hari ini, tentu menyadari kemerdekaan yang dirasakan adalah harga yang harus dibayar dengan nyawa oleh parapahlawan. Maka, sudah sepantasnya menjaga buah dari pengorbanan itu dengan sebaik-baiknya secara bertanggung jawab. Termasuk menjaga semangat perjuangan mereka tetap berkobar di dalam diri kita dan di dalam diri generasi-generasi selanjutnya.

Belajar dari Pahlawan

Tan Malaka adalah sosok pahlawan yang dikagumi oleh Debi Gunawan (22 tahun). Menurutnya, perjuangan dan pola pikir Tan sangat menginspirasi. “Tan rela keluar masuk penjara karena perjuangan untuk orang banyak. Ia ingin masyarakat Indonesia cerdas,” ungkap Debi, Jumat (10/11/2017).

Selain Debi, Irza Ade Swarni (19 tahun) juga mengagumi sosok Tan Malaka. Menurut Irza, Tan adalah orang yang berani dan berpemikiran tajam. Salah satu kata Tan yang paling berkesan bagi Irza adalah “Tuan rumah takkan berunding dengan maling yang menjarah rumahnya”.

“Dengan membaca itu, saya menyadari bahwa kita tidak seharunya berunding dengan penjajah,” ujar Irza, Jumat (10/11/2017).

Berbeda halnya dengan Laila Marni (23 tahun). Ia mengagumi sosok Siti Manggopoh yang berani dan gigih berperang melawan penjajah. “Walaupun Ia perempuan, Siti Manggopoh tidak takut ikut berperang demi meraih kemerdekaan,” kata Laila, Jumat (10/11/2017).

Dari cerita ketiga orang di atas, kita dapat melihat bahwa ada banyak pelajaran yang dapat diambil dari kisah perjuangan parapahlawan yang luar biasa. Kisah itu juga dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk berjuang melawan musuh yang sekarang hadir dalam wujud yang berbeda.

Melihat pentingnya pemahaman tentang sejarah bagi generasi muda, sudah saatnya kesadaran itu dimunculkan kembali. Salah satunya dengan memanfaatkan momen peringatan Hari Pahlawan ini untuk mengajak generasi muda agar lebih mengenal pahlawannya. Pemerintah bekerja sama dengan Lembaga Swadaya Masyarakat dan komunitas untuk mengadakan sosialisasi dengan gencar. Edukasi melalui wisata sejarah bagi anak sekolah juga dapat menjadi salah satu pilihan.

Selain itu, yang tidak kalah pentingnya adalah meningkatkan budaya literasi. Satu hal menarik yang saya ketahui usai berbincang-bincang dengan tiga orang di atas, yaitu kekaguman mereka terhadap sosok pahlawan tersebut berawal dari membaca. Karena itu, dengan menanamkan minat baca pada generasi muda, mudah-mudahan semakin banyak pemuda yang paham tentang pahlawan dan sejarah bangsanya.

BAGIKAN