Disperindag Sumbar: Harga Ayam Naik Karena Kurangnya Pasokan

Ilustrasi ayam potong (Foto: Pexels)

Padangkita.com – Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sumatera Barat Zaimar mengatakan melambungnya harga ayam potong di Pasar Raya Padang dipicu oleh tipisnya stok ayam di tingkat pemasok. Kurangnya stok tersebut merupakan akibat dari pengurangan DOC (bibit ayam) oleh perusahaan pada November tahun lalu.

Selain karena kurangnya stok, kenaikan harga diperkirakan berhubungan juga dengan peningkatan permintaan akhir tahun. Disperindag, kata Zaimar, sudah mengusulkan ke Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Sumbar untuk segera membahasnya dalam minggu ini karena hal tersebut terkait dengan produksi.

Kemudian, terkait pola jual beli pedagang dengan rumah makan, Zaimar meminta para pedagang ke depannya untuk lebih hati-hati dalam melakukan perjanjian. Pedagang mesti memperhatikan kondisi yang mungkin terjadi bila adanya kenaikan harga ayam karena termasuk barang bebas.

“Kita juga tidak tahu pola jual beli pedagang dengan konsumennya yang bukan keluarga, apakah pakai perjanjian atau tidak. Kalau pakai perjanjian, ke depan pedagang harus hati-hati, perhatikan kondisi yang mungkin terjadi seperti kenaikan harga, karena ayam ini termasuk barang bebas,” ujar Zaimar kepada Padangkita.com, Selasa (2/1/2018).

Hingga berita ini diturunkan, Padangkita.com belum mendapatkan keterangan dari Disnakeswan Sumbar. Saat dilakukan konfirmasi, Kepala Disnakeswan Sumbar tidak dapat dihubungi.

Sebelumnya, para pedagang ayam potong di Pasar Raya Padang resah karena adanya lonjakan harga ayam sejak awal tahun ini. Harga ayam pada libur Natal dan Tahun baru yang awalnya Rp25 ribu per kilogram melonjak drastis menjadi Rp30 ribu di awal tahun.

Ketua Koperasi Persatuan Pedagang dan Peternak Ayam Kota Padang Indra Kasman mengatakan bahwa saat ini pedagang sedang merugi. Selain karena turunnya daya beli masyarakat, kenaikan harga juga memaksa para pedagang menjual ayam dengan harga murah ke langganan rumah makan.

“Apapun yang terjadi, harga ayam untuk kebutuhan rumah makan tetap, sementara harga modal kita naik. Ke rumah makan, kita menjual Rp22 ribu per kilogram, sedangkan harga modal kita saat ini sudah Rp27 ribu,” ujar Indra.

Baca juga:
Kota Padang Rayakan Hari Koperasi Ke 71 dengan Meriah

Indra melanjutkan, kenaikan harga tersebut merupakan yang tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Kenaikan itu, kata Indra, dipicu karena kurangnya stok di tingkat pemasok. Menurutnya, normalnya harga ayam di pasaran hanya sekitar Rp22 ribu per kilogram.

“Kita mengharapkan dinas terkait turun tangan untuk mengatasi persoalan ini. Jika tidak, bisa gulung tikar semua pedagang ayam di sini. Pihak dinas mungkin bisa mengimbau perusahaan pemasok untuk menurunkan harga,” ujarnya.