Cuaca Ekstrem, Nelayan Di Pesisir Selatan Berhenti Melaut

Dermaga nelayan di Teluk Mandeh. (Foto: dok. PadangKita)

Padangkita.com – Cuaca ekstrem seminggu terakhir, membuat para nelayan di Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel) terpaksa berhenti turun ke laut untuk menangkap ikan.

Padahal usaha nelayan merupakan tulang punggung kehidupan keluarga kebanyakan masyarakat Pessel yang tinggal di pesisir.

Salah seorang nelayan Sago kecamatan IV Jurai Pessel Asrial, Kamis ( 30/11), mengakui, kondisi cuaca buruk tingginya curah hujan, ekonomi keluarga menjadi lumpuh.

Berhenti melaut, jelasnya, untuk sementara terpaksa berhutang kepada pihak lain dalam memenuhi kebutuhan keluarga.

“Nanti utang tersebut dibayar setelah kembali menjalankan aktifitas menangkap ikan di laut,” ujarnya sebagaimana dilansir dari pesisirselatankab.go.id.

Menurutnya, sebagai nelayan tepi tentu penghasilan kecil, bahkan untuk kebutuhan keluarga saja sering mengalami kekurangan. Terlebih, tempat usaha yang dilakoninya itu milik orang lain.

Artinya, keberadaan nelayan penerima upah sangat sulit untuk berkembang.

“Kami para nelayan tepi berharap perhatian dan dukung modal usaha dari pemerintah agar bisa berusaha untuk hidup secara mandiri. Sulit bagi nelayan yang ekonomi lemah untuk bisa bebas dari kekurangan. Jangankan untuk membeli biduk sebagai alat menangkap ikan, untuk memenuhi kebutuhan keluarga saja sudah sulit,” terangnya.

Nada yang sama juga disampaikan Pirmansyah nelayan asal Bayang. Dia mengakui, kondisi cuaca yang buruk, pendapatan tidak seimbang dengan pengeluaran.

“Kondisi ini yang membuat selalu di lilit hutang,” tukasnya.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis prakiraan cuaca Sumatera Barat untuk tanggal 30 November- 02 Desember 2017, berpotensi hujan dengan intensitas variasi ringan – lebat bisa disertai angin kencang.

Di samping itu, potensi angin kencang maksimum 30-50 km/jam. Namun tidak terjadi terus menerus di wilayah Solok Selatan, Pesisir Selatan, Mentawai, Padang, Padang Pariaman, Kota Pariaman, Agam Tiku, Pasaman Barat, Tanah Datar, Sawahlunto, Kabupaten Solok, Kota Solok dan Pasaman bagian barat.
Sementara kondisi atmosfer, berupa siklon tropis dahlia ( 998 hpa ) dengan estimasi pergerakan ke tenggara. Sirkulasi siklonik / vortex di perairan Laut Cina Selatan. Daerah Tekanan Rendah di perairan Andaman.
Lalu, monsun indeksnya positif, instruksi massa udara dingin dari benua Asia semakin banyak ke wilayah Indonesia, sehingga terjadi pertukaran massa udara dari belahan bumi selatan.
Dampaknya, sebagaimana disampaikan BMKG Minangkabau Sumatera Barat, perlu diwaspadai bencana akibat kecuacaan seperti banjir, genangan air, longsor, pohon tumbang  dan banjir bandang.
Baca juga:
Imelda Sari Terpilih Menjadi Ketua Umum IKA Sejarah Unand