Bung Hatta dan Dua Mimpinya yang Tak Pernah Terbeli

Museum Rumah kelahiran Bung Hatta (Foto: Aidil Sikumbang)

Padangkita.com – Setiap menyebut nama Bung Hatta, siapapun pasti akan berdecak kagum dengan tokoh yang satu ini. Tokoh proklamator Indonesia ini dinilai sebagai sosok yang sangat sederhana, tenang, dan bersahaja.

Tokoh ini pergi meninggalkan bangsa ini tanpa meninggalkan cela sedikit pun, tak ada catatan-catatan jelek baik mengenai kepemimpinan maupun kepribadiannya.

Dr. Drs. H. Mohammad Hatta lahir di Bukittinggi 12 Agustus 1902 dan meninggal di Jakarta, 14 Maret 1980 (usia 77 tahun). Nama lahirnya adalah Mohammad Athar.

Disarikan dari berbagai sumber, Mohammad Hatta merupakan anak kedua dari ayah yang bernama Muhammad Djamil dan ibu yang bernama Siti Saleha, keduanya merupakan asli urang darek.

Ayah Bung Hatta merupakan seorang keturunan ulama tarekat di Batuhampar, dekat Payakumbuh, Sumatera Barat. Sedangkan ibunya berasal dari keluarga pedagang di Bukittinggi.

Pemerintah memberikan gelar Pahlawan Proklamator kepada Bung Hatta pada 23 Oktober 1986 bersama dengan mendiang Bung Karno. Pada 7 November 2012, Bung Hatta secara resmi bersama dengan Bung Karno ditetapkan oleh Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono sebagai Pahlawan Nasional.

Cerita perjuangan Hatta dan rekan-rekannya dalam memperjuangkan kemerdekaan Republik ini memang tidak usah diragukan lagi. Penjara dan pengasingan menjadi dua hal yang kerap kali dijalani dan dirasakannya, namun semuanya dijalani dengan kesabaran.

Perjuangannya tak sia-sia, Indonesia bisa memperoleh kemerdekaannya sendiri dan dapat berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia ini.

Mimpinya agar Indonesia terbebas dari belenggu penjajahan belanda berhasil diwujudkan dengan proklamasi kemerdekaan bangsa ini pada tanggal 17 Agustus 1945.

Namun di balik semua itu, ada mimpi yang tidak pernah terbeli oleh Bung Hatta hingga akhir hayatnya. Yakni mimpi membeli sepatu Bally untuk dirinya dan mesin jahit untuk istri tercinta.

Padahal, sebagai seorang wakil presiden dan pernah menjabat sebagai perdana menteri membeli sepatu merk apapun seharusnya bukanlah suatu hal yang sulit. Bahkan dia bisa meminta beberapa puluh pasang sepatu dan mesin jahit tersebut dengan mengutus perwakilan untuk menemui pengusaha atau penjual kedua barang tersebut. Namun hal itu tidak pernah dilakukan oleh Bung Hatta.

Baca juga:
Menyusuri Negeri Mimpi Lembah Harau

Untuk bisa mewujudkan mimpinya untuk membeli sepatu tersebut, Bung Hatta menabung rupiah demi rupiah. Namun sayang, uangnya tidak pernah cukup. Kebutuhan harian dan membantu sanak famili lebih penting baginya dari pada sepatunya itu.

Hingga Bung Hatta meninggal pada 1980 mimpinya untuk membeli sepatu Bally itu tinggallah mimpi.

Selain itu, Salman Alfarizi dalam sebuah bukunya Muhammad Hatta; Biografi Singkat 1902-1980 mengutip salah satu kisah mengharukan dimana istri Bung Hatta, ibu Rahmi (panggilan akrabnya adalah Yoeke), harus urung membeli sebuah mesin jahit karena tiba-tiba ada pemotongan uang. Ibu Rahmi pun protes kepada suaminya, kenapa ia tidak diberitahu sebelumnya.

Bung Hatta menjawab dengan sabar, “Yoeke, rahasia negara tidak ada sangkut pautnya dengan usaha memupuk kepentingan keluarga.”

Setelah mengundurkan diri dari jabatan Wapres pada tahun 1956, keuangan keluarga Bung Hatta semakin kritis. Uang pensiun yang didapatkannya amat kecil.

Dalam buku “Pribadi Manusia Hatta, Seri 1,” Ny Rahmi menceritakan, Bung Hatta pernah marah ketika anaknya usul agar keluarga menaruh bokor sebagai tempat uang sumbangan bagi tamu yang berkunjung.

Ny Rahmi mengenang, Bung Hatta suatu ketika terkejut menerima rekening listrik yang tinggi sekali.”Bagaimana saya bisa membayar dengan pensiun saya?” kata Bung Hatta.

Bung Hatta mengirim surat kepada Gubernur DKI Ali Sadikin agar memotong uang pensiunnya untuk bayar rekening listrik. Akan tetapi, Pemprov DKI kemudian menanggung seluruh biaya listrik dan PAM keluarga Bung Hatta.

Bung Hatta adalah pendiri Republik Indonesia, negarawan tulen, dan seorang ekonom yang handal. Di balik semua itu, ia juga adalah sosok yang rendah hati.

Sifat kesederhanaannya pun dikenal sepanjang masa. Musisi Iwan Fals mengabadikan kepribadian Bung Hatta itu dalam sebuah lagu berjudul, “Bung Hatta”.

Beliau harus menjadi contoh bagi tokoh politik dan pemerintahan saat ini yakni betapa pun berkuasanya seseorang jangan pernah menyalahgunakan kekuasaan tersebut untuk kepentingan pribadi.