Budaya Minang dalam Film Laga

SUMATERA BARAT kini menjadi ladang subur perfilman tanah air. Wilayah ini tidak saja menjadi lokasi pembuatan, menyediakan banyak karya sastra yang bisa dialih-wacanakan menjadi film, akan tetapi juga memiliki banyak kreator dan pemain film. Di antara film yang cukup popular dari wilayah ini adalah Siti Nurbaya (Marah Rusli/Dedy Setyadi), Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk ( Hamka/Sunil Soraya), Negeri 5 Menara (Ahmad Fuadi/Affandi Abdul Rachman).  Film terbaru yang mengangkat kearifan budaya Sumatera Barat adalah Surau dan Silek, yang disutradarai oleh Arief Malinmudo dengan pengambilan gambar langsung di Sumatera Barat.

Film Surau dan Silek yang berdurasi 90 menit tersebut menceritakan tentang budaya Minangkabau yang mulai langka. Yaitu budaya menuntut ilmu di surau dengan mengaji, serta belajar silek. Dalam film ini diceritakan tentang surau yang menjadi pusat anak-anak belajar mengaji dan membentuk karakter, sekaligus menjadi ruang tidur bagi laki-laki. Surau menjadi sekolah kedua bagi anak-anak nagari untuk belajar.

Namun kini fungsi surau sebagai tempat menuntut ilmu tersebut perlahan-lahan mulai terkikis. Surau benar-benar digunakan hanya untuk ibadah dan pengajian ibu-ibu. Penceritaan surau yang dibangun dalam film ini memiliki nilai plus untuk mengingatkan kembali tentang fungsi surau pada zaman sekarang ini. Kini masyarakat desa maupun kota mulai meninggalkan surau. Warga beralih ke mesjid dengan fasilitas yang lebih lengkap. Meskipun sama-sama tempat ibadah, surau memiliki beberapa kelebihan. Surau tak hanya untuk ibadah, akan tetapi juga arena pendidikan. Ketika masyarakat melupakan surau, maka sesungguhnya mereka juga mengabaikan sarana pedidikan tradisional penting dan bersejarah.  Dalam situasi seperti itulah film Surau dan Silek ini menjadi berharga; mengingatkan khasanah yang hampir punah.

“Musuah indak dicari, basuo pantang diilakkan”. Begitulah  bunyi ungkapan pesilat Minangkabau. Tak ada orang Minang yang tidak tahu dengan seni tradisi silat. Menurut para tetua Minang, Silat atau Silek dalam bahasa Minang, tidak digunakan untuk menjahati orang lain, tidak pula untuk mencari musuh, ataupun agar memiliki kemampuan beladiri semata. Silat digunakan masyarakat sebagai sarana untuk menjalin silahturahmi sesama manusia dan hubungan dengan Tuhan. Silat dipelajari di surau, dan oleh sebab itu tak akan terlepas dari sholat dan doa. Biasanya belajar silat dilakukan setelah mengaji dan selepas sholat Isya. Mempelajari silat dan menuntut ilmu di surau merupakan suatu kebiasaan masyarakat Minangkabau yang sudah dilakukan turun-temurun. Kesenian tradisi dan kebudayaan yang demikian diungkapkan Arief Malin Mudo dalam film ini

“Lahia silek mancari kawan, batin silek mancari Tuhan”. Itulah ungkapan lain pesilat Minangkabau. Semakin tinggi ilmu seseorang dalam bersilat, maka semakin baik pula silahturahminya sesama kawan, dan semakin baik pula ibadahnya kepada Tuhan. Bagi masyarakat Minang yang suka merantau, silat menjadi salah satu bekal dalam menjaga diri selama perjalanan dan dirantau. Silat juga penting untuk pertahanan nagari atau daerah terhadap ancaman dari luar.

Estetika peran dan gerak yang mendidik

Menurut Herbert Zettl, estetika karya seni film erat kaitannya dengan unsur yang melekat dalam masyarakat, sehingga dapat menangkap maksud dan tujuan yang disampaikan. Salah satu unsur pembangun film tersebut pastinya gerak serta perannya. Film Surau dan Silek mempunyai nilai estetis dari segi gerakannya. Pola akting pemain yang dihadirkan memiliki fungsi yang sejalan dengan pendidikan bagi calon penonton utamanya, yaitu anak-anak. Seperti gerakan bersalaman ketika bertemu atau berpisah dengan seseorang yang lebih tua atau guru. Begitupun gerakan pemain belajar silat. Mereka terlihat fasih melakukan adegan silat. Seperti ketika memainkan silek ampang suok.  Dan nilai gerak tersebut dapat memberi nilai estetika tersendiri untuk film ini.

Sayangnya tak banyak pemeran film ini yang total dalam berperan.  Selalu saja ada yang terputus antara gerak dengan mimik pemeran.  Seperti ketika pemain belajar silat, tetapi wajah pemain terlihat biasa saja dan terlihat tidak berkeringat. Padahal gerakan silat bukanlah gerakan yang mudah dilakukan dan mengeluarkan banyak keringat. Begitupula dengan mimik dari seorang guru silatnya yang terlihat biasa saja sehingga tidak mendukung karakternya menjadi seorang guru silat.

Penawar Rindu Perantau Minang

Film Surau dan Silek menjadi tontonan favorit perantau yang berasal dari Sumatera Barat. Film ini menurut mereka mampu menjadi obat penawar rindu pada kampung. Bukan saja karena   lokasinya di Ranah Minang, tapi juga karena tema yang diangkatnya. Film ini menghadirkan keindahan alam seperti Gunung Merapi, Bukit Barisan, hamparan rumputan Padang Mangateh, jalanan setapak, lahan sawah, dan lainnya.

Salah satu hal unik dari film ini adalah dari sudut bahasanya.  Hampir seluruh pemain berdialog memakai bahasa Minangkabau. Logat serta bahasa yang mereka gunakan persis orang Minangkabau aslinya. Seperti yang diungkapkan Lessing pada Cassirer tahun 1956, kemampuan yang dituntut kepada seniman adalah pemanfaatan cara memilih bahasa sehari-hari sehingga mampu memiliki ciri yang khas. Pendapat tersebut mampu dibuktikan Arief Malinmudo memilih bahasa Minangkabau menjadi ciri khas terhadap filmnya ini. Dengan demikian film Surau dan Silek mampu masuk tepat pada sasaran para perantau Minang.

Secara keseluruhan sebenarnya film ini mampu menyaingi film dari mancanegara. Namun beberapa catatan penting seharusnya sutradara mampu menghadirkan sesuatu yang lebih, dengan ide dan budaya yang justru jauh bernilai jual tinggi. Begitupun dari pemilihan musik sebagai backsoundnya, seharusnya mampu memberi ekspektasi pada telinga penonton bahwasannya inilah seni tradisi musik Minangkabau  pada film Surau dan Silek. Kurangnya musikalitas Minang pada film ini, mempengaruhi visual dari film ini.

Pada perspektif lain, sebagian orang berpendapat bahwa film Surau dan Silek, merupakan representasi dari film The Karate Kids dengan versi Minangkabau. Kedua film tersebut bertemakan seni tradisi bela diri dari perspektif masing-masing budaya. Bagi masyarakat China, Kungfu juga digunakan untuk menjalin silahtrahmi kepada teman dan Tuhan. Sebelum berlatih, mereka berdoa ke Kuil. Gerakan Kungfu berasal dari gerakan kehidupan sehari-hari, yang mengarahkan hati dan fikiran pada satu fokus, sehingga mampu untuk seimbang. Seimbang kepada teman juga seimbang terhadap tuhan. Hal tersebut bagi masyarakat China, juga terdapat pada pesilat masyarakat Minangkabau.

BAGIKAN