Bocah Penderita Gizi Buruk di Padang Tutup Usia

Habil, anak penderita gizi buruk di Padang (Foto: Aidil Sikumbang)

Padangkita.com – Afrizon (38) benar-benar tak menyangka bila anak keduanya Habil akan tutup usia, Minggu (28/01/2018) pagi. Tanpa tanda-tanda yang mengkhawatirkan, tiba-tiba saja bocah tujuh tahun penderita gizi buruk itu dipanggil oleh Yang Mahakuasa.

Pria yang sehari-hari bekerja sebagai pedagang roti bakar keliling itu tak bisa menyembunyikan raut wajah sedih. Ia lesu, matanya berkaca-kaca oleh air mata.

“Bagaimana lagi, ditinggalkannya kita setengah sebelas tadi,” ujarnya parau.

Menurut Afrizon, selama masa perawatan di RSUD Dr. Rasidin Padang, kondisi Habil semakin membaik. Bahkan berat badannya mengalami kenaikan 1,1 kg dari sebelumnya 8 kg. Oleh sebab alasan itu pula anaknya tidak jadi dirujuk ke RSUP M. Djamil Padang untuk mendapatkan penanganan yang lebih baik.

Baca Juga: Bocah 7 Tahun Derita Gizi Buruk di Padang

Sang istri Mira Susanti (32) juga tak kalah lesu. Ia terduduk di lantai ruangan rumah sakit di samping dipan putranya. Tatapannya kosong. Putri bungsunya yang biasanya berada di pangkuan tampak digendong oleh putra sulung yang baru duduk di bangku kelas V sekolah dasar.

Sekitar pukul 13.00 WIB, jenazah Habil dinaikkan ke ambulans. Didampingi ayah, ibu, dan saudara-saudarinya. Jasad Habil dibawa pulang untuk disemayamkan di rumahnya Kelurahan Banuaran, Kecamatan Lubuk Begalung, Kota Padang sebelum dibawa ke kampung halaman di Batang Kapas, Pesisir Selatan untuk dikuburkan.

Kesulitan Ekonomi

Gizi buruk yang diderita Habil telah berlangsung sejak tiga tahun terakhir. Kondisi itu bermula ketika sang anak mengalami demam tinggi dan kejang-kejang. Sejak saat itu, kondisi sang anak terus mengalami penurunan. Bahkan sejak dua bulan terakhir anak kedua dari tiga bersaudara ini sudah tak bisa menerima asupan makanan. Habil hanya tergolek lemah, tak dapat lagi berinteraksi.

“Dulu ia sangat lincah, seperti anak-anak seusianya,” kenang Afrizon, Rabu pekan lalu.

Afrizon menuturkan, akibat keterbatasan ekonomi, ia dan istrinya hanya bisa merawat Habil di rumah dengan seadanya, sambil sesekali membawanya ke tempat pengobatan alternatif. Selain karena alasan ekonomi, mereka juga tidak punya KTP, meskipun sudah delapan tahun berdomisili di Padang. Sementara itu, keluarga tersebut juga tidak punya asuransi kesehatan yang aktif sehingga tidak bisa berobat gratis.

Baca juga:
Hipoksia Bisa Sebabkan Kematian, Tim Dokter Edukasi Pemain Semen Padang FC

Jangankan untuk membawa sang anak berobat, untuk biaya hidup sehari-hari saja keluarga itu kepayahan. Dari pekerjaannya sebagai pedagang roti bakar, Afrizon hanya berpenghasilan kurang dari Rp100 ribu sehari, sedangkan istrinya sebagai ibu rumah tangga tak berpenghasilan. Sementara itu, ia mesti menghidupi empat anggota keluarganya dan menyisihkan Rp300 ribu per bulan untuk rumah ukuran 4 x 6 meter yang mereka tempati.

Baca Juga: Gizi Buruk, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

Kabar mengenai Habil kemudian sampai ke Pemeritah Kota Padang. Baznas Padang bersama pihak Puskesmas Lubuk Begalung segera membawa Habi RSUD Dr. Rasidin Padang, Selasa (23/01/2018) siang.

Kepala Ruangan Bangsal Anak RSUD Dr. Rasidin Siska Olivia mengonfirmasi bahwa bocah tersebut memang mengalami gizi buruk. Berdasarkan hasil pemeriksaan dokter ahli, Habil menderita gizi buruk tipe marasmus (kekurangan kalori dan protein) dan beberapa komplikasi penyakit lainnya.

Terkait biaya perawatan pasien, Kepala Dinas Kesehatan Kota Padang Ferry Mulyani mengatakan pihaknya telah menyelesaikan urusan BPJS keluarga pasien. Sebelumnya, pasien sudah terdaftar pada BPJS tipe ketiga (premi Rp25 ribu), tetapi menunggak selama sebelas bulan karena keterbatasan ekonomi.

“Tunggakan itu telah ditalangi oleh pihak DKK Padang. Untuk ke depannya, BPJS keluarga pasien akan dialihkan ke Jaminan Kesehatan Sumatera Barat Sakato yang preminya ditanggung oleh Pemda,” ujarnya, Rabu (24/01/2018) seusai menjenguk almarhum.

Kasus Pertama Tahun Ini

Kadis DKK mengatakan kasus yang dialami Habil merupakan kasus gizi buruk yang pertama di Padang tahun ini. Selain Habil, hingga kini pihak DKK Padang belum menerima laporan adanya kasus gizi buruk lainnya.

Berdasarkan catatan DKK Padang, setidaknya ada 61 kasus penderita gizi buruk di Kota Padang tahun lalu. Dari jumlah tersebut, kata Mulyani, sebagian besarnya sudah beralih ke status gizi kurang, sedangkan sebelas penderita lainnya masih dalam kondisi gizi buruk.

Meski tidak dalam perawatan, sebelas pasien itu masih dalam pantauan pihak DKK Padang. Pihak puskesmas setiap hari menimbang berat badan penderita setiap hari dan memastikan asupan makan yang diterimanya.

Baca juga:
Suara Dukungan Kurang, Calon Perorangan di Padang Gagal Ikuti Pilwako

Baca Juga: Cegah Gizi Buruk di Padang, Orang Tua Diminta Rutin Bawa Balita ke Posyandu

Ia melanjutkan, proses pemulihan penderita gizi buruk memang butuh waktu. Tidak sama dengan penyakit lainnya yang segera pulih seusai dirawat, penderita gizi buruk butuh waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun agar bisa beralih ke kondisi gizi kurang, kemudian beralih ke gizi baik.

Untuk mencegah gizi buruk, Kepala Dinas pun mengajak masyarakat untuk rutin membawa balitanya ke posyandu setiap bulan untuk dilakukan penimbangan. Dari program Deteksi Dini Tumbuh Kembang (DDTK) yang ada di posyandu, gejala gizi buruk bisa ditangkal.

“Selama ini, orang tua berhenti membawa anaknya ke posyandu setelah imunisasinya lengkap. Padahal ke posyandu tidak hanya untuk imunisasi, tetapi juga untuk melakukan DDTK,” ujar Mulyani.