Berlayar dengan Kapa Toman di Ngarai Sianok

Kapa Toman di Ngarai Sianok, Bukittinggi (Foto: Aidil Sikumbang)

Padangkita.com – Berlayar di tengah samudera sudah lazim dilakukan. Namun sangat aneh jika berlayar di tengah ngarai yang dikelilingi perbukitan. Namun keanehan itu terbantah dengan kehadiran kapal kayu di tengah Ngarai Sianok, Kabupaten Agam Sumatera Barat. Kapa Toman namanya.

Ngarai Sianok sejak zaman kolonial telah dikenal dengan keindahan dengan hamparan persawahan, yang dikelilingi bukit dan tebing. Kawasan ini bisa dicapai dengan berkendara selama sepuluh menit dari pusat Kota Bukittinggi.

Saat ini keindahan alam dan suasananya yang asri dan jauh dari polusi, dimanfaatkan warga dengan mendirikan sejumlah kafe dengan konsep tersendiri. Keberadaan sebuah bukit di tengah ngarai yang dikenal sebagai Tabaiang Takuruang, menambah eksotisnya Ngarai Sianok.

Ada pemandangan unik usai melintasi Tabiang Takuruang. Sebuah bangunan mirip kapal layar berdiri dengan kokoh. Kapal yang terbuat dari kayu itu berada di pinggir sungai dan menghadap ke Tabiang Takuruang. Sejenak terlihat seperti kapal yang sedang bersandar di pinggir sungai, sebelum melanjutkan pelayaran mengelilingi kawasan Ngarai Sianok.

Kapal bernama Kapa Toman ini merupakan sebuah kafe yang beroperasi sejak Desember 2017, setelah pembangunannya memakan waktu selama satu tahun, yang menghabiskan biaya hingga Rp 300 juta.

Pengunjung di Kapa Toman (Foto: Aidil Sikumbang)

Menurut pengelola Kapa Toman, Haikal Abrar, konsep kapal sengaja dipilih agar menjadi pembeda dengan kafe-kafe lain yang telah ada.

“Idenya (Kapa Toman) terinspirasi dari alam. Alam disini kan bagus. Kita memilih konsep ini (kapal) karena dekat dengan sungai. Kalau bikin yang lain kan sudah banyak”, ujar Haikal Abrar, Sabtu (03/2/2018).

Kapa Toman memiliki panjang 20 meter, lebar delapan meter dan tinggi 20 meter. Sebagian kafe berbentuk kapal ini terbuat dari kayu. Sudah dihabiskan sebanyak 25 kubik kayu pilihan seperti Surian.

Karena konsep kapal yang dipilih, pengelola juga memajang sejumlah pelampung yang tergantung di bagian langit-langit kapal. selain itu juga ada kemudi dari kayu yang berada di bagian depan, serta tali tambang. lokasi anjungan dibagian depan ini menjadi salah satu lokasi favorit pengunjung untuk berfoto, dengan latar Tabiang Takuruang.

Baca juga:
Pulau Cingkuak, Snorkeling dan Wisata Sejarah ke Benteng Portugis

“Bagus lokasinya. Pemandangannya sangat indah dan alami”, ujar Jon, salah seorang pengunjung yang ditemui Padangkita usai berfoto.

Meski baru dibuka selama satu bulan, namun keberadaan kafe unik ini telah dikenal secara luas. Banyak foto – foto lokasi ini yang beredar luas di sejumlah media sosial, sehingga membuat warga dari berbagai daerah bahkan luar Sumatera Barat yang terpikat untuk datang. Tidak hanya itu, wisatawan asing juga kerap datang ke lokasi ini.

“Awalnya tidak tahu ada tempat seperti ini. Rekomendasi dari kawanlah. Kebetulan suasananya hampir mirip dengan yang di Bandung (Jawa Barat) ya. Setelah sampai disini suasana dan alamnya bagus”, ungkap Santi, wisatawan asal Pekanbaru Riau.

Selain menawarkan suasana alam yang asri dan uniknya kapal kayu, Kafe Kapa Toman juga menyuguhkan beragam makanan dan minuman khas Minangkabau, seperti Teh Talua Tapai dan Nasi Tuai. Nasi Tuai sendiri merupakan makanan dari Beras Pulut yang ditanak dengan santan peras, lalu disiram kuah kolak yang terbuat dari santan dan gula aren merah.

“Makanan dan minuman disini menjual khas minang semuanya. Ada Teh Talua Tapai, Nasi Tuai. Untuk kedepannya, kami ingin jualannya Cuma khas minang”, ujar Haikal.

Setelah berlayar dengan Kapa Toman di Ngarai Sianok, pengunjung juga bisa meneruskan perjalanan ke sejumlah lokasi yang juga menawarkan keindahan alam Ranah Minang. Kawasan Ngarai Sianok sendiri berada di kawasan penting dalam sejarah peradaban Sumatera Barat, seperti Koto Gadang, Matur dan Bukittingi.

(Aidil Sikumbang)