Berbeda Pandangan Agama, Mahasiswa Minang Terbunuh di Kairo

Padangkita.com – Pada malam Minggu, 7 Juni 1931, terjadi pertikaian antar beberapa mahasiswa Indonesia yang menuntut ilmu di Kairo Mesir (Universitas Al-Azhar).

Perkelahian antara Adnan Ismail dan Hannan Moehjin (dari Palembang) melawan Oesman Saleh (berasal dari Sumatera Barat) ini berakhir dengan tewasnya pemuda asal minangkabau tersebut.

Malam itu, Adnan dan Hanan sedang berjalan-jalan untuk mencari udara segar. Ketika mereka sampai di sebuah tempat bernama Bab El Chalk, tiba-tiba terdengar bunyi revolver.

Saat menoleh ke belakang, Adnan melihat Oesman sedang mengarahkan mulut revolver ke kepalanya. Oesman saat itu bersama dengan dua temannya Oemar bin H Hoesein dan Hamid bin H Hamzah  yang berasal dari Jawa.

Beruntung, peluru revolver tersebut tidak mengenai siapa pun. Tembakan melenceng ke jendela kedai di sekitar lokasi tersebut sehingga kacanya pecah.

Tidak lama berselang, tembakan kedua dilepaskan kepada Adnan, tapi juga melenceng. Kali ini, pelaku yang menembak adalah Oemar.

Tanpa berpikir panjang, Adnan langsung menerkam musuh dengan pisau raut yang ada di dalam sakunya. Adnan menikam perut Oesman sebanyak dua hingga tiga kali sampai pemuda asal minangkabau tersebut lemas karena perutnya terluka parah.

Melihat rekannya dalam bahaya, bukannya membantu, kedua teman Oesman tadi malah melarikan diri karena ketakutan.

Adnan kemudian langsung menyerahkan diri ke konsul Belanda dengan menerangkan kronologis kejadian. Oesman juga langsung dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Keesokan harinya, Oesman dikabarkan meninggal dunia.

Perseteruan yang berujung kematian tersebut disebabkan karena perbedaan pandangan dalam urusan syariah agama atau masalah personal yang seharusnya tidak perlu diperdebatkan.

Berikut cuplikan Laporan harian Soeloeh Ra’jat Indonesia, No. 33, Tahoen ke-V, REBO 19 AUGUSTUS 1931 (hlm. 2) tentang perkelahian antara sesama pelajar Indonesia di Kairo, Mesir tersebut, dilansir dari laman pribadi Suryadi Sunuri, dosen dan peneliti di Universitas Leiden.

“Roesoeh di Cairo.

Perkelahian peladjar kita di-Cairo jang membawa maoet.

Pada tanggal 7 djalan 8 Juni 1931, malam Minggoe adalah soeatoe malam jang amat sial bagi poetera Indonesia di-Cairo, karena pada malam itoe […] telah terdjadi pertikaian antara saudara ’Adnan Ismail & Hannan Moehjin (dari Palembang) melawan saudara ‘Oesman Saleh (berasal dari Sumatra Barat), pertikaman mana sampai meniwaskan djiwa jang terseboet belakangan.

[K]edoea pesakitan itoe [oleh Consul Belanda di Cairo] dikirim ke-Indonesia, di sana tempat akan menimbang perkaranja. Kedoeanja soedah berangkat dari Port-Said pada tanggal 30 Juni 1931.

[T]imboelnja perkelahian itoe […] karena perseteroean dalam oeroesan sjachrijah atau persoonlijk, jang ta’ perloe kita goegat sebab-sebabnja lebih djaoeh. [S]ebab begitoelah soedah mendjadi tabiat alam, rasa dengki dan tjemboeroe mentjemboeroei itoe, ta’ loepoet dari seseorang manoesia, selama sifat manoesia masih ada padanja.

[…]

[P]ada malam jang […] sial [itu,] saudara ’Adnan berdjalan-djalan bersama seorang kawannja Hannan, oentoek menoekar-noekar oedara atau mentjioem oedara malam. […] Tiba disatoe tempat “Bab El Chalk” namanja dekat Bibliotheek Chadiwijah sekonjong-konjong terdengar boenji revolver memoekoel anak telinganja. Ia menoeleh kebelakang tampak padanja moloet revolver itoe ditoedjoekan kepadanja, oleh bangsanja sendiri atau s. Oesman Saleh jang terseboet diatas bersama doea orang kawannja Oemar bin H Hoesein dan Hamid bin H Hamzah berasal kedoea saudara ini dari Tjitjalengka (Java) oentoengkan baik – Alhamdoelillah – anak pèlor jang berbahaja itoe, tiada mengenai dirinja, tetapi terlantjar kedjendela seboeah kedai disitoe sampai petjah; tetapi beroentoeng djoega, pèlor itoe hilang disitoe sadja alias tiada mengenai seorang machloek poen.

Sementara ’Adnan menoeleh, letoesan jang kedoea soedah tiba poela, tetapi djoea tersimpang. Letoesan jang kedoean ini, boekan lagi dilepaskan oleh s. Oesman Saleh, tetapi oleh s. Oemar jang terseboet tadi, karena ketika itoe, pistol itoe soedah diserahkan ketangannja, sebab tempak (sic) s. Oesman akan mengerojok mangsanja itoe dengan tjara mengadoe tenaga.

Oekoerlah sendiri, pemandangan siapakah jang tidak gelap, merasa djiwa[nja] terantjam seperti ini?

Tiada tempo lagi, ia (‘Adnan) menerkam moesoeh jang hendak menelan djiwanja boelat-boelat itoe, diterkamnja dengan pisau raoetnja jang kebetoelan ketika itoe [ada] dalam sakoenja. Dipertoebi-toebinja doea tiga kali sampai moesoehnja itoe lemas karena oesoesnja soedah keloear, baroelah dilepaskannja dan ia teroes menjerahkan dirinja kepada Consul Belanda, serta menerangkan kedjadian itoe sedjelas-djelasnja, seorang jang tertikam tadi [‘Oesman Saleh], lantas dioesoeng ke-Hospital. Besoknja kedengaran, bahwa ia telah menghela nafas jang penghabisan meninggalkan doenia fana ini, dengan membawa loeka parah.

[…]

[A]dapoen doea orang kawannja tadi setelah melihat s Oesman Saleh soedah berada dalam baha’a, laloe lari ketakoetan, menghindarkan dirinja, boekan bekerdja menolong kawannja seberapa bisa.

Begitoelah keadaan kawan jang tiada setia….

Dengan berita […] ini, dapat kita mengambil kesimpoelan, bahwa pemboenoehan itoe, boekanlah hanja semata-mata kesalahan jang menikam, tidak; tetapi tikaman itoe terdjadi hanja terbit dari karena membela diri jang terantjam, lain tidak!

[…]”

Terkait peristiwa dalam berita tersebut, Suryadi mengatakan bahwa perbedaan pandangan keagamaan yang membawa dendam pribadi sehingga berujung pada perkelahian membawa maut tersebut adalah ‘penyakit’ umat Islam yang terus bertahan sampai kini.

Baca juga:
Pangek Sasau, Surga Terakhir Danau Singkarak

Tampaknya, kata Suryadi, pada tahun 1930an mahasiswa (kita) di Mesir boleh menyimpan senjata api dan senjata tajam. “Tentu senjata itu akan berbicara jika terjadi kesalahpahaman atau dendam dalam diri, seperti nasib malang yang dialami Oesman Saleh, pelajar yang berasal dari Minangkabau itu,” ujar Suryadi.

Hingga saat ini, belum diketahui nagari asal anak muda yang bernasib malang itu.