Banjir Besar dan Pembangunan Kanal di Padang 1911

Pengoperasian banjir kanal tahun 1916 (foto: Ist)

Padangkita.com – Banjir yang kerap kali terjadi di Kota Padang ternyata bukanlah musibah atau bencana yang baru. Dalam catatan sejarah, banjir di kota Padang diperkirakan telah terjadi sejak zaman pemerintahan Hindia Belanda pada tahun 1900-an.

Kota Padang mulai tumbuh dan berkembang sejak kehadiran Pemerintahan Hindia Belanda tahun 1819. Pusat kota Padang saat itu masih berada di sekitar Moearo, hilir sungai Batang Arau.

Waktu itu, sebagian besar wilayah Kota Padang masih berupa rawa dan rimba raya. Sehingga fokus pembangunan dan pemukiman masyarakat hanya terjadi di sekitar kawasan pelabuhan dan sungai saja.

Pada tahun 1890 Kota Padang terus berkembang sebagai salah satu pusat ekonomi di kawasan pantai barat Sumatera. Pembangunan kota saat itu memang masih terfokus di kawasan sungai Batang Arau.

Awal pembangunannya adalah di sisi barat kemudian berkembang ke arah hulu. Dalam perkembangan selanjutnya Kota Padang berkembang di sebelah barat sepanjang pantai menuju ke arah utara.

Pembangunan yang cukup cepat tidak diiringi dengan kesiapan untuk menghadapi bencana jika terjadi banjir. Padahal waktu itu wilayah Kota Padang yang difokuskan untuk pembangunan banyak yang berupa daerah rawa. Kala itu banjir memang terjadi setelah hujan lebat saja.

Pada saat hujan lebat yang mengguyur Kota Padang memang telah menyebabkan luapan sungai yang cukup besar. Namun air kiriman dari hulu tidak sampai meluber dan menggenani pemukiman masyarakat yang berada di sepanjang sisi sungai.

Masyarakat yang terkena banjir waktu itu adalah masyarakat pribumi yang datang dan menetap di kota Padang. Mereka datang dan membentuk kampung-kampung baru dan mulai melakukan beragam aktivitas. Nama-nama kampong yang terbentuk seperti Kampong Berok, Kampong Nipah, Kampong Seblah, Poeloe Ambatjang, Goeroen, Pondok, dan sebagainya.

Ide pembangunan kanal sendiri sebenarnya sudah lama diapungkan oleh perwakilan pemerintah Hindia Belanda di Padang, namun baru bisa direalisasikan pada tahun 1911. Kanal ini sangat besar dan cukup dalam yang kini dikenal sebagai Banda Bakali.

Pembangunan kanal ini diharapkan agar air di waktu hujan lebat berada di bawah kampong-kampung (pemukiman-pemukiman). Selama ini hujan lebat yang lama menjadi momok bagi warga yang selalu air menggenangi tempat-tempat pemukiman penduduk.

Dalam catatan yang dikutip dari posetaka depok menyatakan ide pembangunan kanal muncul setelah banjir besar yang terjadi pada 28 dan 29 september tahun 1907.

Banjir ini menyebabkan satu orang meninggal dunia dan banyak ternak yang hanyut karena terseret air. Kerugian akibat banjir ini diperkirakan mencapai 2 ton emas (Algemeen Handelsblad, 26-10-1907).

Penundaan pembangunan kanal ini disebabkan besarnya dana yang akan dikeluarkan dan sumber daya manusia (tukang) yang dipakai untuk mengerjakan pembangunan kanal tersebut. Sehingga pembangunannya baru bisa direalisasikan pada tahun 1911.

Pembangunan kanal oleh Belanda ternyata bukan hanya sebagai langkah untuk mengatasi banjir di Kota Padang saat itu, tetapi juga untuk pemisah antara orang-orang Eropa dengan orang-orang lokal.

Selain itu juga, kanal yang dibangun ini sesungguhnya tidak hanya berfungsi untuk menopang sistem drainase tata ruang kota (muara sungai-sungai kecil, pengeringan rawa-rawa, saluran pembuangan), tetapi kanal ini dari sisi pemerintah dapat dipandang sebagai barier, semacam garis pertahanan kota.

Malahan, dalam perang kemerdekaan, kanal yang dibangun pada tahun 1911 ini menjadi batas pemisah area pertempuran antara militer Belanda dan pejuang RI.

Dalam prosesnya pembangunan kanal untuk mengantispasi banjir ini ternyata berjalan cukup lama. Hal ini karena kanal ini cukup lebar dan dasar kanal dengan permukaan tanah cukup tinggi. Lagi pula belum ada teknologi canggih berupa alat berat yang digunakan pada saat itu.

Selain itu juga, hal tersebut agar terjadi sinkronisasi antara arus air dari Batang Arau dengan air laut. Selama proses pembuatan kanal ini beberapa kali terjadi banjir di Kota Padang. Beberapa kejadian banjir yang penting adalah banjir pada tahun 1914 dan 1915.

Kanal banjir tersebut baru bisa dioperasikan pada 1916.