Andrinof A Chaniago Bakal Bahas Kewirausahaan Sosial di Dua Perguruan Tinggi di Sumatera Barat

Andrinof A. Chaniago (Foto: upload.wikimedia.org)

Padangkita.com – Komisaris Utama Bank BRI, Andrinof A Chaniago dalam pekan ini dijadwalkan melakasanakan kuliah umum di dua perguruan tinggi di Sumatera Barat. Kuliah umum pertama dilaksanakan di kampus UIN Imam Bojol Padang pada Rabu (9/5/2018), lalu kemudian pada Jumat (11/5/2018) dilanjutkan di ISI Padang Panjang.

Pada kuliah umum yang akan dilaksanakan di dua perguruan tinggi itu, Andrinof A Chaniago yang juga pernah menjabat sebagai Mantan Menteri PPN/Kepala Bappenas, akan berbicara tentang Menumbuhkan Kewirausahaan Sosial dan Ekonomi Kreatif (termasuk dari sudut pandang Islam).

Andrinof  menilai masyarakat Sumatera Barat memiliki keunggulan secara sosial, sehingga tinggal sedikit lagi untuk memperkuat jiwa kewirausahaan.

“Beberapa keunggulan masyarakat Sumatera Barat, seperti memiliki toleransi yang cukup kuat, budaya gotong royong yang masih ada, Adat Basandi Syarak dan Syarak Basandi Kitabullah serta empati. Tinggal saja diperkuat dengan keinginan yang kuat, lalu melihat keinginan pasar dan memperhatikan perkembangan global,” jelas Andrinof saat dihubungi via WhatsApp, Minggu (06/05/2018).

Andrinof mengatakan bahwa kewirausahaan sosial merupakan paduan dari dua cita-cita dalam hidup. Pertama, meningkatkan kesejahteraan secara material, memproduksi suatu barang dan jasa, lalu mendapatkan keuntungan.

Kedua, memecahkan masalah sosial bagaimana menghadapi ketimpangan, menyediakan lapangan pekerjaan dan menciptakan harmoni dalam berbangsa dan bernegara.

“Kita boleh terus mengejar keuntungan, tapi jangan sampai ada satu titik dimana peningkatan kesejahteraan itu membuat penurunan kesejahteraan kelompok lain,” katanya.

Andrinof menambahkan wirausaha sejati itu adalah orang yang mau mengambil resiko, inovatif, dan berfikir kedepan. Tujuan akhir dari wirausaha sosial adalah hidup bahagia.

“Kewirausahaan sosial adalah jalan untuk hidup bahagia,” ujar pakar ekonomi dari Universitas Indonesia ini.

Selain itu, menurut Andrinof, masyarakat Sumbar memiliki jiwa dagang yang kuat, namun harus didorong untuk menciptakan kreasi sendiri.

Bukti masih lemahnya mental kewirausahaan di Sumbar, sebut Andrinof, yakni belum adanya pengusaha ekonomi kreatif yang dikenal. Sekalipun ada, katanya, tidak semua masyarakat mengenalnya.

“Di samping itu belum berkembangnya industri kreatif di Sumbar, ini harus menjadi tantangan pemerintah untuk mendorong penguatan mental kewirausahaan tersebut,” pungkas Andrinof.