Alumni Sejarah, dan Kehadiran di Era Milenial

Dok. Alumni IKA Sejarah Unand

Padangkita.com – Tamatan sejarah dari perguruan tinggi tidak boleh berkubang pada masa lalu, dalam artian tidak masuk kebutuhan dunia hari ini, jika tidak ingin tertinggal dilajunya zaman. Masa lalu harus selalu dijadikan aktual, maka dengan begitu sejarah senantiasa hadir pada lini kehidupan apa pun.

Usai terpilih secara aklamasi dalam Musyawarah Besar (Mubes) II Ikatan Alumni (IKA) Sejarah Universitas Andalas (Unand) kamarin di Convention Hall Unand Padang, Imelda Sari, didaulat menyampaikan visi misinya ke depan.

Berbicara di hadapan ratusan alumni yang hadir, Imelda bukan memulainya dari masa lalu sebagaimana terminologi sejarah, melainkan realitas kekinian.

Detik ini, sebutnya, ada sekitar 100 juta generasi milenial dimana di antaranya adalah mahasiswa sejarah. Arti kata, sejarah jangan terpaku pada masa lalu sebagaimana defenisinya, namun bagaimana sejarah (mereka yang mendapat pendidikan sejarah) merebut masa depan.

Mantan wartawan SCTV ini menggarisbawahi IKA Sejarah bukan hanya forum silahturahmi, beranjang sana antar angkatan, memberi akses atau jaringan pada mahasiswa, membuka komunikasi yang baik pada jurusan, tapi lebih penting bidang keilmuwan sejarah sendiri juga bisa menjadi peluang bagaimana merebut masa depan.

“Karena kita punya generasi milenial hampir 100 juta dari 250 juta penduduk. Kalau kemudian mereka apatis artinya ada kegagalan dalam diri kita memberi refleksi kepada mereka apa yang dimaksud bangsa dan nation,” tandasnya.

Generasi milenial penting diberi pemahaman masa lalu untuk menakar masa depan. Sementara tamatan sejarah terbiasa membuat satu dokumen jadi tulisan yang basah dan menarik.

Imelda berharap dari pemikiran tokoh besar dari zamannya seperti tokoh-tokoh yang lahir dari Minangkabau, anak sejarah Unand mengembangkan pemikiran tersebut.

Hal demikian, menurutnya, suatu langkah nyata gerakan spirit (semangat), alumni, jurusan maupun mahasiswa, untuk menegaskan ada manfaat dari sejarah itu, bahwa sejarah itu yang bisa buat narasi-narasi negeri ini ke mana.

“Ini kita harapkan ke depan,” tukasnya.

Dia berharap ada forum diskusi, meningkatkan profesionalisme dari profesi seorang sejarawan, apa yang bisa direbut.

Baca juga:
Infused Water Kurma, Minuman Kegemaran Rasulullah

“Basic (dasar) kita bagaimana bisa merebut masa depan. Karena dari sejarah juga kita belajar. Banyak sosok pemimpin dulu, memimpim republik dengan kapasitas yang baik, sehingga patut dicontoh,” terangnya.

Alumni sejarah Unand yang mencapai angka 1200, saat ini terserap pada beragam lini pasar. Sebagian ada sebagai wartawan, sejarawan, di museum, dan usaha sendiri.

Berhubung hari ini adalah era teknologi dan digital, Imelda mendorong jurusan menggencarkan pemenuhan keahlian (skill) kepada mahasiswa. Sehingga setelah lulus mereka punya kecakapan yang dibutuhkan pasar.

Imelda berharap para mahasiswa kita di jurusan Ilmu Sejarah Unand memiliki skill yang mumpuni sehingga bisa terbang melanglang buana kesana kemari. Bisa mencari arsip-arsip sejarah yang berada di luar negeri, seperti di London, Leiden dan lainnya sebagainya,

“Ini juga harus dilakukan alumni, ada cukup banyak alumni mematangkan itu. Dari 24 angkatan saya minta mereka berkontribusi saling memberi, berkontribusi pada alumni,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua jurusan Ilmu Sejarah Anatona berharap seluruh alumni menjaga kekompakan saling menghormati, menghargai dan menyayangi.

“Alumni senior menuntun yang yunior,” pintanya.