Affest Metasinema FIB Unand Gelar Open Submission Hingga Agustus

Padangkita.com – Setelah sukses menggelar Andalas Film Exhibition (AFE) pada tahun lalu, tahun ini Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Metasinema (sebelumnya bernama Relair Cinema) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unand, kembali mengadakan festival film dengan nama Andalas Film Festival (Affest). Affest akan digelar pada bulan Oktober mendatang.

Direktur Artistik, Affest, Adi Osman mengatakan pendaftaran telah dibuka dari tanggal 8 Juli hingga 31 Agustus 2018.

Adapun kategorinya dibuka untuk umum dan pelajar. Seluruh film yang terdaftar sebelumnya akan melalui tahap kurasi. Film yang dinyatakan lulus tahap akan melalui tahap penjurian. Selanjutnya, film yang masuk nominasi akan dipresantasikan oleh masing-masing kurator pada saat acara nanti.

“Tahun lalu kategori pelajar itu khusus Sumatera Barat, sekarang kita buka nasional. Biar daya saing kawan-kawan kita di Sumbar lebih tinggi,” ujarnya pada Senin, 09 Juli 2018.
Kehadiran Affest dengan skala nasional, seperti tahun lalu. Metasinema kembali mengambil peran di ranah apresiasi dengan menyelenggarakan Affest dari sekian banyaknya festival-festival film independen di berbagai daerah di Indonesia.

“Affest diharapkan mampu menjadi salah satu wadah untuk mengapresiasi sekaligus ruang untuk hadirnya dialektika-dialektika terhadap karya-karya sineas Indonesia umumnya, Sumatera Barat khususnya. Sehingga, bermunculanlah banyak gagasan dan ide yang dikemas beragam lewat medium film,” ujar Mahareta Iqbal Jamal, Direktur Festival, Rabu, 11 Juli 2018.

Adapun tema yang diusung Affest 2018 yaitu, “Bertanya Kerbau Pada Pedati” yang merupakan terinspirasi dari cerpen A.A. Navis dengan judul yang sama, “Bertanya Kerbau Pada Pedati merupakan suatu kondisi yang mempertanyakan tentang ketidakselarasan antara manusia, alam, dan kebudayaan. Hal ini disimulasikan dengan kerbau dan pedati, bahwa sesuatu yang di depan mata adalah hal yang seharusnya dipertanyakan. Jika terus dipertanyakan tidak ada sesuatu yang kekal dan terus diagungkan. Maka sinema yang berperan sebagai mata atau pedati tidak lepas dari praktik tanya jawab, sebab-akibat, sintesis dan antitesis. Membentuk alam yang bergerak terus menerus, bergelut dalam dunia tanya jawab,” ujar Adi Osman.

Berbeda dengan tahun lalu yang terbatas pada pemutaran film, Affest kali ini tidak hanya memutarkan film yang masuk, namun juga memberikan hadiah untuk satu film terbaik dan satu film special mention (pilihan juri), “Tidak hanya perbedaan nama, namun AFE dan Affest juga memiliki perbedaan konsep. Jika pada AFE kita hanya melakukan pemutaran film, pada Affest kita memberikan penghargaan untuk film terbaik dan pilihan juri pada malam penganugrahan,” lebih lanjut Iqbal menerangkan rangkaian Affest tidak jauh berbeda dengan AFE, “Agenda Affest terdiri dari simposium, pemutaran film, dan diskusi kuratorial film yang lulus kurasi,” terangnya.

Baca juga:
Konflik Tanah Ulayat dalam Pentas "The Margin of Our Land"

Sebagai penutup, Iqbal menambahkan semoga kehadiran Affest dapat menjadi panggung bagi film-film dari sineas-sineas muda di Sumatera Barat. (Juni Fitri Yenti)