Abrasi Tiap Tahun, Warga Pasia Gurun Minta Pemko Perpanjang Batu Grib

Pemukiman warga di Nagari Ulakan Kabupaten Padang Pariaman, Sumbar dilanda abrasi. Sejumlah rumah, warung dan jalan di kawasan tersebut rusak berat. Warga berharap pemerintah segera bertindak agar abrasi tidak meluas, karena belasan rumah lainnya masih terancam. (Foto: Aidil Sikumbang)

Padangkita.com – Kawasan Pantai Pasia Gurun, Kelurahan Pasia Nan Tigo kembali dilanda abrasi pantai, Minggu (3/12/2017). Gelombang pasang yang tinggi pada malam hari setidaknya merusak dua rumah warga di kawasan tersebut. Hingga saat ini gelombang tinggi yang menyebabkan pengikisan daratan di pinggir pantai masih terus terjadi.

Yanti Marlina, salah seorang warga yang rumahnya tergerus ombak, mengatakan gelombang tinggi mulai terjadi sesudah magrib. Ombak menghempas ke sisi belakang rumah dan menggerus bagian dapur dan kamar mandi.

“Sampai tadi malam gelombang tinggi masih terjadi,” kata Yanti, warga kepada Padangkita.com, Kamis (7/12/2017).

Rumah Arif, tetangga Yanti, juga tidak luput dari abrasi pantai. Sarana MCK rumah mertuanya itu rusak dan tak bisa digunakan.

“Padahal baru saja direnovasi Agustus lalu. Juga rusak karena abrasi. Kemarin dari Dinas Sosial Padang sudah mengirimkan bantuan, seperti mi, sarden, dan terpal. Tetapi bantuan untuk antisipasi abrasi belum ada,” ujarnya di sela-sela kegiatannya memperbaiki rumah.
Arif melanjutkan, masih terjadinya abrasi tidak terlepas dari masih kurang maksimalnya keberadaan pemecah ombak di sana. Batu grib yang dibangun di kawasan tersebut jauh lebih pendek daripada batu grib di kampung sebelah.

Ketua RW 09 Kelurahan Pasia Nan Tigo, Jamaluddin, mengatakan hal senada. Menurutnya, ada empat batu grib di kawasan Pantai Gurun yang belum berfungsi maksimal. Panjang batu grib tersebut cuma sekitar 20 meter, lebih pendek daripada batu grib di Pantai Pasia Jambak dan Pantai Pasia Sabalah yang lebih dari 50 meter. Kondisi tersebut, kata Jamal, membuat Pantai Pasia Gurun menjadi satu-satunya sasaran ombak.

“Batu grib merupakan solusi yang paling efektif untuk mengatasi abrasi. Jadi kami mengharapkan batu grib yang sudah dibangun sejak 2013 ini ditambah panjangnya. Kalau tidak rumah warga di sana akan hancur, cepat atau lambat,” ujar pensiunan pegawai PSDA Sumbar itu.

Jamal juga mengkritik Pemko Padang yang kurang memperhatikan kondisi warga di Pantai Pasia Gurun. Ia mengaku setiap tahun selalu memperjuangkan agar penambahan panjang batu grib dialkukan, tetapi tak kunjung disetujui.

“Pemerintah tampaknya lebih lebih mengutamakan keindahan Pantai Purus daripada keselamatan warga di sini,” ujarnya.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Barat Rumainur mengatakan abrasi yang terjadi tidak terlepas dari kondisi cuaca buruk yang terjadi beberapa minggu belakangan. Curah hujan yang ekstrem dan gelombang pasang yang tinggi membuat bibir pantai tergerus ombak. Kondisi itu diperparah dengan ketiadaan green belt (seperti tanaman bakau) yang berfungsi sebagai penahan ombak.

“Biasanya daerah yang tidak ada green belt akan mengalami pergerusan pinggiran pantai bila dilanda ombak besar,” ujar Rumainur, Selasa (5/12/2017).

Untuk mengatasi abrasi ini, kata Rumainur, perlu dilakukan kembali penanaman green belt. Selain itu, juga bisa diantisipasi dengan pemasangan batu grib (pemecah ombak), seperti yang telah dilakukan oleh Pemerintah Kota Padang. Namun, pemasangan batu grib tersebut harus dilakukan secara bertahap dan memakan biaya yang besar.

Adapun untuk mengurangi risiko terkena abrasi, Rumainur meminta kepada masyarakat untuk tidak mendirikan rumah atau bangunan lainnya di dekat bibir pantai. Jika ada yang sudah terlanjur mendirikannya, ia mengharapkan masyarakat selalu waspada dengan terjadinya abrasi. Masyarakat juga disarankan untuk menanam pohon bakau untuk melindungi pemukiman mereka.

(J. Sastra)

BAGIKAN