4 Dari 7 Spesies Penyu Dunia Ada di Sumbar

Ilustrasi penyu. (Foto: disunting dari cover buku Rencana Aksi Nasional (RAN) Konservasi Penyu 2016-2030), Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut KKP)

Padangkita.com – Sumatera Barat menjadi habitat utama penyu di muka bumi ini. Pasalnya, empat dari tujuh jenis (spesies) penyu hidup di alam Sumatera Barat.

Empat spesies penyu tersebut adalah Penyu Lekang (Lepidochelys olivachea), Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata), Penyu Hijau (Chelonia mydas), dan Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea).

“Dari 7 spesies penyu di dunia, 4 spesies ada di Sumatera Barat,” jelas peneliti penyu dari Universitas Bung Hatta Harfiandri Damanhuri, Selasa (23/05/2017).

Tiga dari spesies penyu tersebut yakni Penyu Lekang, Penyu Sisik, dan Penyu Hijau, saat ini ditangkarkan di UPT Konservasi Penyu Kota Pariaman.

Berdasarkan UPT Konservasi Penyu Kota Pariaman tahun 2016, ada sekitar 60 ekor penyu berusia 1-6 tahun yang sedang ditangkarkan.

UPT Konservasi Penyu Pariaman terletak di Desa Apar, Kecamatan Pariaman Utara, sekitar 50 km dari Kota Padang. Luas konservasi penyu sekitar 2 hektare dari 111 ribu Ha luas total Kawasan Konservasi Perairan Sumatera Barat.

Pemerhati penyu Citrha Aditur Bahri mengatakan, penyu suka daerah yang alami.

Menurutnya lagi, penyu sangat rentan terhadap suara, cahaya. “Secara habitat tentu penyu akan terganggu, bukan berarti kita tidak pro terhadap pembangunan wilayah pesisir dan pulau-pulau untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat namun tentu dalam membangun wilayah pesisir ini butuh kajian yang mendalam. Salah satunya dalam bentuk konservasi yang nantinya akan di bagi beberapa zona,” terang Citrha.

Disebutkannya, zona penting karena menjadi dasar dalam membangun dan mengkonservasi wilayah, habitat maupun spesies penyu itu sendiri.

Disebutkannya, pulau-pulau yang ada di Pariaman, merupakan daerah peneluran penyu yang bertelur sepanjang tahun. Jenis penyu yang banyak ditemukan di kawasan Pariaman adalah Penyu Lekang, Penyu Hijau dan Penyu Sisik.

Mengingat potensi kawasan tersebut, maka 20 Oktober 2010, Walikota Pariaman kala itu mengeluarkan SK No. 334/523/2010 tentang pencadangan kawasan konservasi perairan daerah Kota Pariaman.

Tahun 2013, sebutnya, Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Pariaman membentuk Unit Pelaksana Teknis (UPT) Konservasi Penyu.

Dorongan membentuk lembaga yang fokus mengkonservasi penyu tersebut karena sudah jelas Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990, jelas-jelas mengamanatkan perlindungan terhadap penyu.

Baca juga:
Penyebab Melemahnya Nilai Tukar Rupiah Menurut Menkeu

Dasar hukum pembentukan UPT Konservasi Penyu juga semakin kuat seiring dengan keluarnya UU No. 22 tahun 1999, dimana daerah mempunyai kewenangan dalam mengelola sumberdaya hayati laut yang terdapat di wilayahnya dengan disertai tanggung jawab untuk memelihara kelestarian lingkungan.

Target Menteri Kelautan dan Perikanan, tahun 2020, kawasan konservasi sesuai potensi masing-masing daerah jumlah total 20 juta Ha. Pariaman dalam hal ini mendorong potensi daerahnya bahwa Pariaman merupakan wilayah peneluran penyu yang cukup banyak disinggahi penyu bertelur, sehingga dibuat lokasi konservasi penyu.

Namun sangat disayangkan, di tengah upaya Pariaman melestarikan penyu, di lain hal, keberadaan penyu terus terancam. Harfiandri mengatakan, yang mengancam penyu adalah prilaku manusia.

Manusia memburu penyu, baik telor maupun daging.

Di daratan hingga lepas pantai Sumatera Barat, telur penyu menjadi buruan orang-orang dengan tujuan ekonomi.

Sementara di Kepulauan Mentawai, sebutnya, bukan telur yang diburu melainkan daging penyu. Artinya yang diburu adalah penyunya.

“Orang yang menjual telor penyu secara terang-terangan atau resmi memang tidak ada. Namun secara sembunyi-sembunyi masih marak,” tukasnya.

Alhasil, populasi penyu terus menyusut dari waktu ke waktu.

Harfiandri mencontohkan, di Pulau Penyu, Pesisir Selatan, tahun 1950, naik (bertelor ke pulau) 40 ekor semalam. Pada tahun 1989, pulau seluas 17,5 ha, semakin berkurang.

Selanjutnya tahun 1999, jelas Harfiandri, hanya 15-20 ekor naik semalam. Beberapa tahun terakhir, sambungnya, 4-5 ekor semalam.

Berdasarkan penelitian yang ia lakukan, ada sekitar 12 titik pantai dan pulau yang menjadi lokasi pendaratan penyu di Padang.

Andri mengatakan, berdasarkan data beberapa tahun lalu, lepas pantai Sumbar ada sekitar 15.000 penyu. Sementara di perairan Kapulauan Mentawai, hidup sekitar 8.000 penyu.

“Akan tetapi data-data tentang penyu sampai saat ini memang sulit di dapatkan, sehingga keberadaan populasinya baru 20.000 ekor dengan potensi 1.500 ekor per tahuan,” ujarnya.

Menurutnya, hampir 99 % masa hidup penyu akan dihabiskan dilaut dan hanya 1 % penyu akan berada didarat untuk menghantarkan telurnya. Tidak semua pantai menjadi daerah persarangan penyu, karena penyu akan memilih pantai dimana ia dilahirkan dengan krakteristik pantai yang berpasir halus, lantai, gembur, bersih, jauh dari ancaman bahaya serta memiliki vegetasi pantai.

Baca juga:
UNP Sosialisasikan SNMPTN ke Sejumlah Sekolah di Sumbar

Hingga kini, sebut Andri, baru tercatat sebanyak 32 lokasi persarangan penyu di Sumatera Barat.

Antara lain, di Pulau Penyu, Pulau Karabak Ketek, Pulau Karabak Gadang, di Kab. Pesisir Selatan, Pulau Toran, Pulau Pandan di Kota Padang, Pulau Pieh di Kabapaten Padang Pariaman, Pulau Kasiek, dan Pantainya Kota Pariaman, Pulau Telur, Kabupaten Pasaman dan Pulau Sanding Kabupaten Kepulauan Mentawai.

Di peringatan Hari Penyu Sedunia ini, Harfiandri menegaskan, menghargai penyu bisa dilakukan dengan tidak mengkonsumsi telur dan daging. Semua demi keberlanjutan kehidupan penyu sebagai indikator perubahan lingkungan secara global.